Tampilkan postingan dengan label syeikh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label syeikh. Tampilkan semua postingan

Senin, 15 Februari 2016

Unknown

Syeikh Bin Baz

Syeikh Bin Baz






  • Nama: Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz
  • Gelar: Syaikh Bin Baz
  • Lahir: 1909 M atau 1330 H
  • Wafat: 1999 M atau 1420 H 
  • Asal: Arab Saudi
  • Madzhab: Sunni - Tanpa Madzhab

  • Seorang ulama kontemporer yang ahli dibidang sains Hadits, Aqidah, dan Fiqih. lahir di Riyadh - Arab Saudi tahun 1909 M/1330 H. Pada awalnya beliau bisa melihat dengan normal, namun pada usia remaja penglihatannya perlahan memburuk hingga puncaknya pada usia sekitar 20 tahun beliau pun mengalami kebutaan total. Syaikh Bin Baz pernah menjabat sebagai mufti (penasehat agung) kerajaan Arab Saudi, kepala majelis pendiri Rabithah Alam Islami (Liga Muslim Dunia), rektor Universitas Islam Madinah, anggota dewan tertinggi Hai'ah Kibaril Ulama (semacam MUI di Arab Saudi), dan ketua dari Dewan Risen Ilmu dan Fatwa (al-Lajnah ad-Daimah lil Buhuts al-Ilmiyah wal Ifta')


    Pendidikan Ilmiah


    Nama lengkap beliau adalah Abdul Aziz bin Abdullah bin Muhammad bin Abdullah Ali Baz, dikenal dengan nama Syaikh Bin Baz. Dilahirkan di kota Riyadh pada tahun 1330 H. Syaikh Bin Baz telah mampu menghafal Al-Qur'an disaat usia beliau masih sangat kecil, pada saat menghafalnya beliau rutin bermurojaah kepada Syaikh Abdullah bin Furaij. Setelah itu, beliau pun mempelajari ilmu-ilmu syariat dan bahasa Arab melalui bimbingan ulama-ulama disekitar kota Riyadh. Ketika mulai belajar agama (ketika masih kecil), beliau bisa melihat dengan baik dan normal, namun pada tahun 1346 H (diusia sekitar 16 tahun) mata beliau terkena sebuah infeksi yang berangsur membuatnya sakit dan rabun, dan kemudian lama-kelamaan mata beliau tidak dapat melihat sama sekali. Kebutaan total ini terjadi pada tahun 1350 H (sekitar usia 20-an tahun).

    Meskipun tuna netra, namun Syaikh Bin Baz terkenal memiliki tingkat intelegensi yang luar biasa dan juga kemampuan hafalan yang baik, bisa menghafal dan memahami suatu artikel hanya dengan sekali dibacakan, ini adalah rahasia dibalik majunya ilmu serta wawasan yang dimiliki Syaikh Bin Baz dalam ilmu agama pada kondisi beliau yang memiliki kekurangan semacam itu, dan ini merupakan suatu kelebihan yang dimiliki Syaikh Bin Baz. Perkembangan ilmu beliau terus menanjak hingga sampai pada level ulama senior Arab Saudi, bahkan beliau diberi kepercayaan oleh kerajaan Arab Saudi untuk menjadi Mufti (penasehat agung) Rajanya, mengepalai Dewan Ilmu dan Fatwa Kerajaan (al-Lajnah ad-Daimah Lil Buhuts al-Ilmiah wal Ifta'), dan beliau juga mengepalai Hai'ah Kibarul Ulama (Majelis Besar Ulama Senior).

    Fatwa Modern

    Sebagaimana halnya Imam al-Qurthubi yang berpendapat bahwa bumi itu rata, Syaikh Bin Baz pada awalnya juga merupakan seorang yang mempercayai bahwasanya bumi itu rata. Pada saat ekspedisi keluar angkasa pertama kali dilakukan oleh orang-orang Uni Soviet & Amerika Serikat, membuat sebagian ilmuwan-ilmuan di negeri barat menciptakan sebuah statement hujatan atas Al-Qur'an dan isinya yang menurut mereka sangat tidak masuk akal. Dan karena hal ini memicu kemarahan dari sebagian ulama di negeri Arab kala itu, salah satunya adalah Syaikh Bin Baz, maka semenjak itu munculah fatwa bagi siapapun kaum muslimin yang mengikuti pesta besar orang-orang non-muslim barat dalam menghina Al-Qur'an dan mengkufuri isinya, maka orang itu telah melakukan suatu tindak kekufuran yang bisa berakibat pada keluarnya orang itu dari millah (agama) Islam.
    Namun suatu ketika ada seseorang yang mengabarkan pada Syaikh Bin Baz perihal ekspedisi luar angkasa yang dilakukan oleh beberapa ilmuan barat, dan hal ini membuktikan kebenaran tafsir Imam Ibnu Hazm dalam menafsirkan sebuah ayat di dalam Al-Qur'an yaitu surat Al-Gashiyyah ayat 20. Imam Ibnu Hazm berpendapat bahwa penekanan kata "dihamparkan" pada surat Al-Ghasiyyah ayat 20 menunjukkan bahwa sebenarnya bentuk bumi itu tak rata dan terhampar sebagaimana karpet, namun karena kekuasaan Allah sehingga bumi yang tak rata itu seakan-akan terhampar pada bagian permukaannya dan makhluk hidup pun bisa tinggal serta berjalan-jalan diatasnya.
    "Dan (apakah mereka tidak memperhatikan) bumi, bagaimana ia dihamparkan" (QS. Al-Gashiyyah: 20)
    Sejak saat itu maka muncul sebuah fatwa rujuknya Syaikh Bin Baz dari pendapat bahwa bumi itu rata dan beliaupun berhujjah dengan pendapat Imam Ibnu Hazm diatas.


    Karya-karya Beliau


    • al-Faidhul Hilyah fi Mabahits Fardhiyah
    • at-Tahqiq wal Idhah li Katsirin min Masailil Haj wal Umrah Wa Ziarah
    • at-Tahdzir minal Bida'
    • Risalah Mujazah fiz Zakat was Shiyam
    • al-Aqidah as-Shahihah wama Yudhadhuha
    • Wujubul Amal bis Sunnatir Rasul Sholallahu 'alaihi Wasallam wa Kufru man Ankaraha
    • ad-Dakwah Ilallah wa Akhlaqud Da'iyah
    • Wujubu Tahkim Syar'illah wa Nabdzu ma Khalafahu
    • Hukmus Sufur wal Hijab wa Nikah As Sighar
    • Naqdul Qawiy fi Hukmit Tashwir
    • al-Jawabul Mufid fi Hukmit Tashwir
    • asy-Syaikh Muhammad Bin Abdil Wahhab (Da'wah wa Siratuhu)
    • Tsalatsu Rasail fis Shalah: Kaifa Sholatun Nabi Sholallahu 'alaihi Wasallam, Wujubu Ada'is Shalah fil Jama'ah, Aina Yadha'ul Mushalli Yadaihi hinar Raf'i minar Ruku'
    • Hukmul Islam fi man Tha'ana fil Qur'an au fi Rasulillah Sholallahu 'alaihi Wasallam
    • Hasyiyah Mufidah 'ala Fathil Bari
    • Risalatul Adilatin Naqliyah wa Hissiyah 'ala Jaryanis Syamsi wa Sukunil 'ardhi wa Amakinis Su'udil Kawakib
    • Iqamatul Barahin 'ala Hukmi man Istaghatsa bi Ghairillah au Shaddaqul Kawakib
    • al-Jihad fi Sabilillah
    • Fatawa Muta'aliq bi Ahkaml Haj wal Umrah wal Ziarah
    • Wujubu Luzumis Sunnah wal Hadzr minal Bid'ah
    Nasihat kami bagi seluruh umat Islam untuk berhati-hati dalam membaca kitab-kitab Bin Baz  atau membaca artikel yang dilengkapi kutipan menggunakan nama Bin Baz ini. Mintalah pendapat kepada para Ustadz yang mengerti. 
    Walllohu A'lam.
    Semoga Alloh SWT merahmati Syeikh Abdullah Bin Baz, mengampuni segala kesalahan beliau dan memberikan pahala sesuai dengan amal baik perbuatan beliau. Amin.
    Read More
    Unknown

    Syeikh Shalih Utsaimin

    Syeikh Shalih Utsaimin





  • Nama: Muhammad bin Shalih bin Muhammad bin Utsaimin al-Wuhaiby at-Tamimi
  • Gelar: Syaikh Utsaimin
  • Lahir: 1928 M atau 1347 H
  • Wafat: 2001 M atau 1422 H 
  • Asal: Arab Saudi
  • Madzhab: Sunni - Tanpa Madzhab


  • Seorang ulama era kontemporer yang ahli dalam sains fiqh. Lebih dikenal dengan nama Syaikh Ibn Utsaimin atau Syaikh Utsaimin. Dilahirkan di kota Unaizah pada tahun 1928. Pernah menjabat sebagai ketua di Hai'ah Kibarul Ulama (semacam MUI di Kerajaan Arab Saudi)


    Pendidikan Ilmiah

    Syaikh Utsaimin kecil mulai belajar membaca Al-Qur'an kepada kakeknya (ayah dari ibunya) yaitu Syaikh Abdurrahman bin Sulaiman Ali ad-Damigh, hingga dia hafal. Sesudah itu dia mulai mencari ilmu dan belajar khat (ilmu tulis menulis), ilmu hitung, dan beberapa bidang ilmu sastra kepada kakeknya tersebut. Kemudian Syaikh Utsaimin melanjutkan belajarnya di Maktab (sekolah kecil) Syaikh Abdurrahman as-Sa'di, Syaikh Abdurrahman as-Sa’di menugaskan kepada dua orang orang muridnya untuk mengajar para junior (murid-muridnya yang masih kecil). Dua murid tersebut adalah Syaikh Ali ash-Shalihin dan Syaikh Muhammad bin Abdil Aziz al-Muthawwi'. Kepada yang terakhir ini (Syaikh Muhammad bin Abdil Aziz al-Muthawwi') dia Syaikh Utsaimin mempelajari kitab "Mukhtasar Al-Aqidah Al-Wasithiyah" dan "Minhaju Salikhin fil Fiqh" karya Syaikh Abdurrahman as-Sa’di. Disamping itu, Syaikh Utsaimin juga belajar ilmu faraidh (waris) dan fiqh kepada Syaikh Abdurrahman bin Ali bin 'Audan. Sedangkan kepada guru utama dia yaitu Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di, dia mengkaji masalah tauhid, tafsir, hadits, fiqh, ushul fiqh, faraidh, musthalahul hadits (ilmu-ilmu hadits), nahwu, dan sharaf.
    Ketika beranjak remaja, Syaikh Utsaimin belajar kepada Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz, disini Syaikh Utsaimin mempelajari kitab Shahih Bukhari, sebagian risalah-risalah (karya tulis) Ibnu Taimiyyah serta beberapa kitab-kitab fiqh. Dia berkata: "Aku terkesan terhadap Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz karena perhatian dia terhadap hadits, dan saya juga terkesan dengan akhlak dia serta sikap terbuka dia dengan manusia." Kemudian pada tahun 1951, dia duduk untuk mengajar di masjid Jami'. Ketika dibukanya institut-institut ilmu di Riyadh, dia pun mendaftarkan diri disana pada tahun 1952. Berkata Syaikh Utsaimin: "Saya masuk di lembaga pendidikan tersebut untuk tahun kedua setelah berkonsultasi dengan Syaikh Ali ash-Shalihin dan sesudah meminta ijin kepada Syaikh Abdurrahman as-Sa’di. Ketika itu Ma’had al ilmiyyah (Riyadh) dibagi menjadi 2 bagian, yaitu umum dan khusus. Saya berada pada bidang yang khusus. Pada waktu itu bagi mereka yang ingin "meloncat" ia dapat mempelajari tingkat berikutnya pada masa libur dan kemudian diujikan pada awal tahun ajaran kedua. Maka jika ia lulus, ia dapat naik ke pelajaran tingkat lebih tinggi setelah itu. Dengan cara ini saya dapat meringkas waktu."
    Syaikh Muhammad bin Ibrahim Alu Syaikh (mufti pertama Kerajaan Arab Saudi) pernah menawarkan bahkan meminta berulang kali kepada syaikh Utsaimin untuk menduduki jabatan Qadhi (hakim) tinggi, bahkan telah mengeluarkan surat pengangkatan sebagai ketua pengadilan agama di Al-Ihsa (Ahsa), namun dia (Syaikh Utsaimin) menolaknya secara halus. Setelah dilakukan pendekatan pribadi, Syaikh Muhammad bin Ibrahim pun mengabulkannya untuk menarik dirinya (Syaikh Utsaimin) dari jabatan tersebut.

    Sesudah dua tahun belajar, Syaikh Utsaimin lulus dan diangkat menjadi guru di ma’had Unaizah al-‘Ilmi sambil meneruskan studi dia secara intishab (Semacam Universitas Terbuka) pada fakultas syari’ah serta terus menuntut ilmu dengan bimbingan Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di. Ketika Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di wafat, dia menggantikan sebagai imam masjid jami’ di Unaizah dan mengajar di perpustakaan nasional Unaizah disamping tetap mengajar di ma’had al-'Ilmi. Kemudian dia pindah mengajar di fakultas syari’ah dan ushuludin di cabang universitas Imam Muhammad bin Su’ud Al-Islamiyah di Qasim. Dia juga termasuk anggota Hai'ah Kibarul Ulama (semacam MUI di Kerajaan Arab Saudi). Syaikh Utsaimin mempunyai banyak kegiatan dakwah serta menjadi mentor pada setiap da'i diberbagai tempat. Oleh para ulama, jasa dia dinilai sangat besar dalam masalah ini.

    Karya-karya Beliau


    • Talkhis Al Hamawiyah
    • Tafsir Ayat Al-Ahkam
    • Syarh Umdatul Ahkam
    • Musthalah Hadits.
    • Al Ushul min Ilmil Ushul.
    • Risalah fil Wudhu wal Ghusl wash Shalah.
    • Risalah fil Kufri Tarikis Shalah.
    • Majalisu Ar Ramadhan.
    • Al-Udhiyah wa Az Zakah.
    • Al-Manhaj li Muridil Hajj wal Umrah.
    • Tashil Al-Faraidh.
    • Syarh Lum’atul I’tiqad.
    • Syarh Al-Aqidah Al Wasithiyah.
    • Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah.
    • Al Qowaidul Mustla fi Siftillah wa Asma’ihil Husna.
    • Risalah fi Annath Thalaq Ats-Tsalats Wahidah Walau Bikalimatin (belum dicetak).
    • Takhrij Ahadits Ar Raudh Al-Murbi’ (belum dicetak).
    • Risalah Al Hijab.
    • Risalah fi Ash Shalah wa Ath Thaharah li Ahlil A’dzar.
    • Risalah fi Mawaqit Ash Shalah.
    • Risalah fi Sujud As Sahwi
    • Risalah fi Aqsamil Mudayanah.
    • Risalah fi Wujubi Zakatil Huliyyi.
    • Risalah fi Ahkamil Mayyit wa Ghuslihi (belum dicetak).
    • Tafsir Ayatil Kursi.
    • Nailul Arab min Qawaid Ibnu Rajab (belum dicetak).
    • Ushul wa Qowa’id Nudhima ‘Alal Bahr Ar-Rajaz (belum dicetak).
    • Ad Diya’ Allami’ Minal Hithab Al-Jawami’.
    • Al Fatawaa An Nisaa’iyyah
    • Zad Ad Da’iyah ilallah Azza wa Jalla.
    • Fatawa Al-Hajj.
    • Al-Majmu Al-Kabir Min Al-Fatawa.
    • Huquq Da’at Ilaihal Fithrah wa Qarraratha Asy Syar’iyah.
    • Al Khilaf Bainal Ulama, Asbabuhu wa Muaqifuna Minhu.
    • Min Musykilat Asy-Syabab.
    • Risalah fil Al Mash ‘alal Khuffain.
    • Risalah fi Qashri Ash Shalah lil Mubtaisin.
    • Ushul At Tafsir.
    • Risalah Fi Ad Dima’ Ath Tabiiyah.
    • As’illah Muhimmah.
    • Al Ibtida’ fi Kamali Asy Syar’i wa Khtharil Ibtida’.
    • Izalat As-Sitar ‘Anil Jawab Al-Mukhtar li Hidayatil Muhtar.
    • Syarh Riyadhis Shalihin
    Nasihat kami bagi seluruh umat Islam untuk berhati-hati dalam membaca kitab-kitab Shalih Utsaimin  atau membaca artikel yang dilengkapi kutipan menggunakan nama Utsaimin ini. Mintalah pendapat kepada para Ustadz yang mengerti. 
    Walllohu A'lam.
    Semoga Alloh SWT merahmati Syeikh Shalih Utsaimin, mengampuni segala kesalahan beliau dan memberikan pahala sesuai dengan amal baik perbuatan beliau. Amin.
    Read More
    Unknown

    Syeikh Abdul Qodir Jaelani

    Syeikh Abdul Qodir Jaelani



  • Nama: Abdul Qadir Jaelani atau Abd al-Qadir al-Gilani
  • Gelar: As-Syeikh
  • Lahir: 1077 M atau 470 H
  • Wafat: 1166 M atau 561 H 
  • Asal: Persia
  • Madzhab: Sunni - Hambali



  • Syekh Abdul Qadir Jaelani atau Abd al-Qadir al-Gilani adalah orang Kurdi atau orang Persia ulama sufi yang sangat dihormati oleh ulama Sunni. Syekh Abdul Qadir dianggap wali dan diadakan di penghormatan besar oleh kaum Muslim dari anak benua India.Di antara pengikut di Pakistan dan India, ia juga dikenal sebagai Ghaus-e-Azam. Ia lahir pada hari Rabu tanggal 1 Ramadan di 470 H, 1077 M selatan Laut Kaspia yang sekarang menjadi Provinsi Mazandaran di Iran.




    Kehidupan Beliau


    Ada dua riwayat sehubungan dengan tanggal kelahiran al-Ghauts al A'zham Syekh Abdul Qodir al-Jilani Amoli. Riwayat pertama yaitu bahwa ia lahir pada 1 Ramadhan 470 H. Riwayat kedua menyatakan Ia lahir pada 2 Ramadhan 470 H. Tampaknya riwayat kedua lebih dipercaya oleh ulama. Silsilah Syekh Abdul Qodir bersumber dari Khalifah Sayyid Ali al-Murtadha r.a ,melalui ayahnya sepanjang 14 generasi dan melaui ibunya sepanjang 12 generasi. Syekh Sayyid Abdurrahman Jami rah.a memberikan komentar mengenai asal usul al-Ghauts al-A'zham r.a sebagi berikut : "Ia adalah seorang Sultan yang agung, yang dikenal sebagial-Ghauts al-A'zham. Ia mendapat gelar sayyid dari silsilah kedua orang tuanya, Hasani dari sang ayah dan Husaini dari sang ibu". Silsilah Keluarganya adalah Sebagai berikut :

    Dari Ayahnya(Hasani):
     Syeh Abdul Qodir bin Abu Shalih bin Abu Abdillah bin Yahya az-Zahid bin Muhammad bin Dawud bin Musa bin Abdullah Tsani bin Musa al-Jaun bin Abdul Mahdhi bin Hasan al-Mutsanna bin Hasan as-Sibthi bin Ali bin Abi Thalib, Suami Fatimah binti Rasulullah Shallallahu 'alaihi Wassalam

    Dari ibunya(Husaini):
    Syeh Abdul Qodir bin Ummul Khair Fathimah binti Abdullah Sum'i bin Abu Jamal bin Muhammad bin Mahmud bin Abul 'Atha Abdullah bin Kamaluddin Isa bin Abu Ala'uddin bin Ali Ridha bin Musa al-Kazhim bin Ja'far al-Shadiq bin Muhammad al-Baqir bin Zainal 'Abidin bin Husain bin Ali bin Abi Thalib, Suami Fatimah Az-Zahra binti Rasulullah Shallallahu 'alaihi Wassalam

    Hubungan Guru-Murid

    1. Syeikh Abdul Qadir berkata, "Seorang Syeikh tidak dapat dikatakan mencapai puncak spiritual kecuali apabila 12 karakter berikut ini telah mendarah daging dalam dirinya.
    2. Dua karakter dari Allah yaitu dia menjadi seorang yang sattar (menutup aib) dan ghaffar (pemaaf).
    3. Dua karakter dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi Wassalam yaitu penyayang dan lembut.
    4. Dua karakter dari Abu Bakar yaitu jujur dan dapat dipercaya.
    5. Dua karakter dari Umar yaitu amar ma'ruf nahi munkar.
    6. Dua karakter dari Utsman yaitu dermawan dan bangun (tahajjud) pada waktu orang lain sedang tidur.
    7. Dua karakter dari Ali yaitu alim (cerdas/intelek) dan pemberani.
    Masih berkenaan dengan pembicaraan di atas dalam bait syair yang dinisbatkan kepadanya dikatakan: Bila lima perkara tidak terdapat dalam diri seorang Syeikh maka ia adalah Dajjal yang mengajak kepada kesesatan.
    Dia harus sangat mengetahui hukum-hukum syariat zhahir, mencari ilmu hakikah dari sumbernya, hormat dan ramah kepada tamu, lemah lembut kepada si miskin, mengawasi para muridnya sedang ia selalu merasa diawasi oleh Allah.
    Syeikh Abdul Qadir juga menyatakan bahwa Syeikh al Junaid mengajarkan standar Al Quran dan Sunnah kepada kita untuk menilai seorang Syeikh. Apabila ia tidak hafal al Quran, tidak menulis dan menghafal Hadits, dia tidak pantas untuk diikuti.
    Syeikh Abdul Qadir berkata, "Kalimat tauhid akan sulit hadir pada seorang individu yang belum di talqin dengan zikir bersilsilah kepada Rasullullah oleh mursyidnya saat menghadapi sakaratul maut".
    Karena itulah Syeikh Abdul Qadir selalu mengulang-ulang syair yang berbunyi: Wahai yang enak diulang dan diucapkan (kalimat tauhid) jangan engkau lupakan aku saat perpisahan (maut).
    Pada tahun 521 H/1127 M, dia mengajar dan berfatwa dalam semua madzhab pada masyarakat sampai dikenal masyarakat luas. Selama 25 tahun Syeikh Abdul Qadir menghabiskan waktunya sebagai pengembara sufi di Padang Pasir Iraq dan akhirnya dikenal oleh dunia sebagai tokoh sufi besar dunia Islam. Selain itu dia memimpin madrasah dan ribath di Baghdad yang didirikan sejak 521 H sampai wafatnya pada tahun 561 H. Madrasah itu tetap bertahan dengan dipimpin anaknya Abdul Wahab (552-593 H/1151-1196 M), diteruskan anaknya Abdul Salam (611 H/1214 M). Juga dipimpin anak kedua Syeikh Abdul Qadir, Abdul Razaq (528-603 H/1134-1206 M), sampai hancurnya Baghdad pada tahun 656 H/1258 M.

    Karya Tulis Beliau

    Imam Ibnu Rajab juga berkata, "Syeikh Abdul Qadir al Jailani Rahimahullah memiliki pemahaman yang bagus dalam masalah tauhid, sifat-sifat Allah, takdir, dan ilmu-ilmu ma'rifat yang sesuai dengan sunnah."
    Karya karyanya:
    1. Tafsir Al Jilani
    2. Al Ghunyah Li Thalibi Thariqil Haq,
    3. Futuhul Ghaib.
    4. Al-Fath ar-Rabbani
    5. Jala' al-Khawathir
    6. Sirr al-Asrar
    7. Asror Al Asror
    8. Malfuzhat
    9. Khamsata "Asyara Maktuban
    10. Ar Rasael
    11. Ad Diwaan
    12. Sholawat wal Aurod
    13. Yawaqitul Hikam
    14. Jalaa al khotir
    15. Amrul muhkam
    16. Usul as Sabaa
    17. Mukhtasar Ulumuddin
    Murid-muridnya mengumpulkan ihwal yang berkaitan dengan nasihat dari majelis-majelis dia. Dalam masalah-masalah sifat, takdir dan lainnya, ia berpegang dengan sunnah. Ia membantah dengan keras terhadap orang-orang yang menyelisihi sunnah.

    Wafat

    Syekh wafat setelah menderita sakit ringan dalam waktu tidak lama. Bahkan, ada yang mengatakan, Syekh sakit hanya sehari—semalam. Ia wafat pada malam Sabtu, 10 Rabiul Awal 561 H. Saat itu usianya sudah menginjak 90 tahun. Sepanjang usianya dihabiskan untuk berbuat baik, mengajar, dan bertausiah.
    Konon, ketika hendak menemui ajal, putranya yang bernama ‘Abdul Wahhab memintanya untuk berwasiat. Berikut isi wasiat itu:
    “Bertakwalah kepada Allah. Taati Tuhanmu. Jangan takut dan jangan berharap pada selain Allah. Serahkan semua kebutuhanmu pada Allah Azza wa Jalla. Cari semua yang kamu butuhkan pada Allah. Jangan terlalu percaya pada selain Allah. Bergantunglah hanya pada Allah. Bertauhidlah! Bertauhidlah! Bertauhidlah! Semua itu ada pada tauhid.”
    Demikian manaqib ini kami tulis, semoga membawa barokah, manfa,at, dan Ridho allah swt, syafa’at Rasululloh SAW serta karomah Auliyaillah khushushon Syekh Abdul Qodir Jailani selalu terlimpahkan kepada kita, keluarga dan anak turun kita semua Dunia – Akhirat. Amien


    Sumber: 
    Read More
    Unknown

    Muhammad bin Abdul Wahhab

    Muhammad bin Abdul Wahhab



  • Nama:  Muhammad bin Abdul Wahhab An-Najdi
  • Gelar: 
  • Lahir: 1703 M atau 1115 H
  • Wafat: 1792 M atau 91206 H 
  • Asal: Najd, Arab Saudi
  • Madzhab: Sunni - Tanpa Madzhab




  • Muhammad bin Abdul Wahab dilahirkan pada tahun 1115 H (1703 M) di kampung Uyainah (Najed), lebih kurang 70 km arah barat laut kota Riyadh, ibukota Arab Saudi sekarang. Ibnu Abdul Wahab tumbuh dan dibesarkan dalam kalangan keluarga terpelajar. Ayahnya adalah seorang ulama ahlussunnah di lingkungannya. Sedangkan kakaknya juga seorang ulama ahlussunnah yang menjabat sebagai qadhi (mufti besar), tempat di mana masyarakat Najed menanyakan segala sesuatu masalah yang bersangkutan dengan agama Islam.


    Kehidupan Beliau

    Asal mulanya dia adalah seorang pedagang yang sering berpindah dari satu negara ke negara lain dan diantara negara yang pernah disinggahi oleh beliau adalah Baghdad, Iran, India dan Syam. Kemudian pada tahun 1125 H / 1713 M, dia terpengaruh oleh seorang orientalis Inggris bernama Mr. Hempher yang bekerja sebagai mata-mata Inggris di Timur Tengah. Sejak itulah dia menjadi alat bagi Inggris untuk menyebarkan ajaran barunya. Inggris memang telah berhasil mendirikan sekte-sekte bahkan agama baru di tengah umat Islam seperti Ahmadiyah dan Baha’i. Bahkan Muhammad bin Abdul Wahab ini juga termasuk dalam target program kerja kaum kolonial dengan alirannya Kaum Tanpa Madzhab.

    Mulanya Muhammad bin Abdul Wahab hidup di lingkungan sunni pengikut madzhab Hanbali, bahkan ayahnya Syaikh Abdul Wahab adalah seorang sunni yang baik, begitu pula guru-gurunya. Namun sejak dari mula ayah dan guru-gurunya mempunyai firasat yang kurang baik tentang dia bahwa dia akan sesat dan menyebarkan kesesatan. Bahkan mereka menyuruh orang-orang untuk berhati-hati terhadapnya. Ternyata firasat itu benar. Setelah hal itu terbukti ayahnya pun menentang dan memberi peringatan khusus padanya. Bahkan abang kandungnya, Sulaiman bin Abdul Wahab, ulama’ besar dari madzhab Hanbali, menulis buku bantahan terhadapnya dengan judul As-Sawa’iqul Ilahiyah Fir Raddi Alal Wahabiyah.
    Tidak ketinggalan pula salah satu gurunya di Madinah, Syekh Muhammad bin Sulaiman AI-Kurdi as-Syafi’i, menulis surat berisi nasehat: 

    “Wahai Ibn Abdil Wahab, aku menasehatimu karena Allah, tahanlah lisanmu dari mengkafirkan kaum muslimin, jika kau dengar seseorang meyakini bahwa orang yang ditawassuli bisa memberi manfaat tanpa kehendak Allah, maka ajarilah dia kebenaran dan terangkan dalilnya bahwa selain Allah tidak bisa memberi manfaat maupun madharrat, kalau dia menentang bolehlah dia kau anggap kafir, tapi tidak mungkin kau mengkafirkan As-Sawadul A’dham (kelompok majotiti) diantara kaum muslimin, karena engkau menjauh dari kelompok terbesar, orang yang menjauh dari kelompok terbesar lebih dekat dengan kekafiran, sebab dia tidak mengikuti jalan muslimin.

    Sebagaimana diketahui bahwa madzhab Ahlus Sunah sampai hari ini adalah kelompok terbesar. Allah berfirman :

    “Dan barang siapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu (Allah biarkan mereka bergelimang dalam kesesatan) dan kami masukkan ia ke dalam jahannam, dan jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali (QS: An-Nisa 115)


    Ajaran Pemurnian Agama

    Salah satu dari ajaran yang (diyakini oleh Muhammad bin Abdul Wahab, adalah mengkufurkan kaum muslim sunni yang mengamalkan tawassul, ziarah kubur, maulid nabi, dan lain-lain. Berbagai dalil akurat yang disampaikan ahlussunnah wal jama’ah berkaitan dengan tawassul, ziarah kubur serta maulid, ditolak tanpa alasan yang dapat diterima. Bahkan lebih dari itu, justru berbalik mengkafirkan kaum muslimin sejak 600 tahun sebelumnya, termasuk guru-gurunya sendiri.

    Pada satu kesempatan seseorang bertanya pada Muhammad bin Abdul Wahab, Berapa banyak Allah membebaskan orang dari neraka pada bulan Ramadhan? Dengan segera dia menjawab, 

    “Setiap malam Allah membebaskan 100 ribu orang, dan di akhir malam Ramadhan Allah membebaskan sebanyak hitungan orang yang telah dibebaskan dari awal sampai akhir Ramadhan” 

    Lelaki itu bertanya lagi

    “Kalau begitu pengikutmu tidak mencapai satu persen pun dari jumlah tersebut, lalu siapakah kaum muslimin yang dibebaskan Allah tersebut? Dari manakah jumlah sebanyak itu? Sedangkan engkau membatasi bahwa hanya pengikutmu saja yang muslim. 

    Mendengar jawapan itu Ibn Abdul Wahab pun terdiam seribu bahasa. Walau bagaimanapun demikian Muhammad bin Abdul Wahab tidak mematuhi nasehat ayahnya dan guru-gurunya itu.

    Dengan berdalihkan pemurnian ajaran Islam, dia terus menyebarkan ajarannya di sekitar wilayah Najd. Orang-orang yang tidak berpengetahuan agama banyak yang terpengaruh. Termasuk diantara pengikutnya adalah penguasa Dar’iyah, Muhammad bin Saud (meninggal tahun 1178 H / 1765 M) pengasas dinasti Saudi, yang akhirnya menjadi mertuanya. Dia mendukung secara penuh dan memanfaatkannya untuk memperluas wilayah kekuasaannya. Ibn Saud sendiri sangat patuh pada perintah Muhammad bin Abdul Wahab. Jika dia menyuruh untuk membunuh atau merampas harta seseorang dia segera melaksanakannya dengan keyakinan bahwa kaum muslimin telah kafir dan syirik selama 600 tahun lebih, dan membunuh orang musyrik dijamin masuk surga.

    Kegemaran Sejarah Kisah Nabi Palsu

    Sejak dari mula Muhammad bin Abdul Wahab sangat gemar mempelajari sejarah nabi-nabi palsu, seperti Musailamah Al-Kadzdzab, Aswad Al-Ansiy, Tulaihah Al-Asadiy dll. Agaknya dia punya keinginan mengaku nabi, ini ketara sekali ketika ia menyebut kepada para pengikut dari daerahnya dengan julukannya Al-Anshar, sedangkan pengikutnya dari luar daerah dijpanggil dengan julukan Al-Muhajirin. Kalau seseorang ingin menjadi pengikutnya, dia harus mengucap dua kalimah syahadat di hadapannya kemudian harus mengakui bahwa sebelum masuk Kaum Tanpa Madzhab dirinya adalah musyrik, begitu pula kedua orang tuanya. Dia juga diwajibkan mengakui bahwa para ulama' besar sebelumnya telah mati kafir. Kalau mahu mengakui hal tersebut dia diterima menjadi pengikutnya, kalau tidak mereka pun terus dibunuh. Muhammad bin Abdul Wahab juga sering merendahkan Nabi SAW dengan dalih pemurnian akidah, dia juga membiarkan para pengikutnya melecehkan Nabi SAW di hadapannya, sehingga ada seorang pengikutnya berkata :

    "Tongkatku ini masih lebih baik dari Muhammad, karena tongkat-ku masih bisa digunakan membunuh ular, sedangkan Muhammad telah mati dan tidak tersisa manfaatnya sama sekali. "

    Hubungan Dengan Penguasa

    Muhammad bin Abdul Wahab di hadapan pengikutnya tak ubahnya seperti Nabi di hadapan umatnya. Pengikutnya semakin banyak dan wilayah kekuasaan semakin luas. Keduanya bekerja sama untuk memberantas tradisi yang dianggapnya keliru dalam masyarakat Arab, seperti tawassul, ziarah kubur, peringatan Maulid dan sebagainya. Tak menghairankan bila para pengikut Muhammad bin Abdul Wahab lantas menyerang makam-makam yang mulia. Bahkan, pada 1802, mereka menyerang Karbala-Irak, tempat dikebumikan jasad cucu Nabi Muhammad SAW, Husein bin Ali bin Abi Thalib. Karena makam tersebut dianggap tempat munkar yang berpotensi syirik kepada Allah. Dua tahun kemudian, mereka menyerang Madinah, menghancurkan kubah yang ada di atas kuburan, meratakan hiasan-hiasan yang ada di Hujrah Nabi Muhammad.

    Keberhasilan menaklukkan Madinah berlanjut. Mereka masuk ke Mekkah pada 1806, dan merouak kiswah, kain penutup Ka'bah yang dibuat dari sutra. Kemudian merobohkan puluhan kubah di Ma'la, termasuk kubah tempat kelahiran Nabi SAW, tempat kelahiran Sayyidina Abu Bakar dan Sayyidina Ali, juga kubah Sayyidatuna Khadijah, masjid Abdullah bin Abbas. Mereka terus menghancurkan masjid-masjid dan tempat-tempat kaum solihin sambil bersorak-sorai, menyanyi dan diiringi dengan bunyi tabuh & gendang. Mereka juga mencaci-maki ahli kubur bahkan sebagian mereka kencing di kubur kaum solihin tersebut. 

    Gerakan kaum Tanpa Madzhab ini membuat Sultan Mahmud II, penguasa Kerajaan Usmani, Istanbul-Turki, murka. Dikirimlah prajuritnya yang bermarkas di Mesir, di bawah pimpinan Muhammad Ali, untuk melumpuhkannya. Pada 1813, Madinah dan Mekkah bisa direbut kembali. Gerakan kaum ini surut. Tapi, pada awal abad ke-20, Abdul Aziz bin Sa'ud bangkit kembali mengusung fahaman ini. Tahun 1924, ia berhasil menduduki Mekkah, lalu ke Madinah dan Jeddah, memanfaatkan kelemahan Turki akibat kekalahannya dalam Perang Dunia I. Sejak itu, hingga kini, fahaman ini mengendalikan pemerintahan di Arab Saudi. 

    Implikasi Terhadap Warisan Sejarah Islam

    Dewasa ini pengaruh gerakan ini bersifat global. Riyadh mengeluarkan jutaan dolar AS setiap tahun untuk menyebarkan ideologi Tanpa Madzhab ini. Sejak hadirnya kaum ini, dunia Islam tidak pernah tenang penuh dengan pergolakan pemikiran, sebab kelompok ekstrem itu selalu menghalau pemikiran dan pemahaman agama Sunni-Syafi'i yang sudah mapan.
    Kekejaman dan kejahilan Kaum Tanpa Madzhab lainnya adalah meruntuhkan kubah-kubah di atas makam sahabat-sahabat Nabi SAW yang berada di Ma'la (Mekkah), di Baqi’ dan Uhud (Madinah) semuanya diruntuhkan dan diratakan dengan tanah dengan mengunakan dinamit penghancur. Demikian juga kubah di atas tanah Nabi SAW dilahirkan, iaitu di Suq al Leil diratakan dengan tanah dengan menggunakan dinamit dan dijadikan tempat parkir unta, namun karena bantahan dan  desakan kaum Muslimin Antarabangsa maka dibangunkan perpustakaan. Kaum Tanpa Madzhab benar-benar tidak pernah menghargai peninggalan sejarah dan menghormati nilai-nilai luhur Islam. Semua AI-Qubbatul Khadra (kubah hijau) tempat Nabi Muhammad SAW dimakamkan juga akan dihancurkan dan diratakan dengan tanah tapi karena ancaman umat-umat Islam di seluruh dunia maka orang-orang biadab itu menjadi takut dan membatalkan niatnya. Begitu pula seluruh rangkaian yang menjadi manasik haji akan dimodifikasi termasuk maqom Nabi Ibrahim  AS akan diratakan tapi karena banyak yang menentangnya maka dibatalkan oleh Kaum Tanpa Madzhab .

    Pengembangan kota suci Makkah dan Madinah akhir-akhir ini tidak mempedulikan situs-situs sejarah Islam. Makin habis saja bangunan yang menjadi saksi sejarah Rasulullah SAW dan sahabatnya. Bangunan itu dibongkar karena khawatir dijadikan tempat keramat. Bahkan sekarang, tempat kelahiran Nabi SAW terancam akan dibongkar untuk perluasan tempat parkir. Sebelumnya, rumah Rasulullah pun sudah lebih dulu dimusnahkan. Padahal, disitulah Rasulullah SAW berulang-ulang menerima wahyu. Di tempat itu juga putra-putrinya dilahirkan serta isterinya Khadijah r.a. meninggal.

    Islam dengan tafsiran kaku yang dipraktikkan Kaum Tanpa Madzhab, paling punya bukti dalam pemusnahan ini. Kaum Tanpa Madzhab  memandang situs-situs sejarah itu bisa mengarah kepada pemujaan berhala baru. 

    Sami Angawi, pakar sejarah Islam di wilayah tersebut mengatakan bahwa beberapa bangunan dari era Islam kuno terancam musnah. Pada lokasi bangunan berumur 1.400 tahun Itu akan dibangunkan jalan menuju menara tinggi yang menjadi tujuan ziarah jamaah haji dan umrah.
    “Saat ini kita tengah menyaksikan saat-saat terakhir sejarah Makkah. Bahagian bersejarahnya akan segera diratakan untuk dibangun tempat parkir,” katanya kepada Reuters. 
    Angawi menyebut setidaknya 300 bangunan bersejarah di Makkah dan Madinah dimusnahkan selama 50 tahun terakhir. Bahkan sebagian besar bangunan bersejarah Islam telah punah semenjak Arab Saudi berdiri pada 1932. Hal tersebut berhubungan dengan maklumat yang dikeluarkan Dewan Keagamaan Senior Kerajaan pada tahun 1994. Dalam maklumat tersebut tertulis, Pelestarian bangunan bangunan bersejarah berpotensi menggiring umat Muslim pada penyembahan berhala.(Citation: Reuter)

    Nasib situs bersejarah Islam di Arab Saudi memang sangat menyedihkan. Mereka banyak menghancurkan peninggalan-peninggalan Islam sejak masa Rasulullah SAW. Semua jejak jerih payah Rasulullah SAW itu habis oleh modernisasi ala Kaum Tanpa Madzhab. Sebaliknya mereka malah mendatangkan para arkeolog (ahli purbakala) dari seluruh dunia dengan biaya ratusan juta dollar untuk menggali peninggalan-peninggalan sebelum Islam baik yang dari kaum jahiliyah maupun sebelumnya. Kemudian dengan bangga mereka menunjukkan bahwa zaman pra Islam telah menunjukkan kemajuan yang luar biasa, tidak diragukan lagi ini merupakan pelenyapan bukti sejarah yang akan menimbulkan suatu keraguan di kemudian hari.

    Kabar Mengenai Beliau dalam Riwayat 


    Sungguh Nabi SAW telah memberitakan akan datangnya fahaman ini dalam beberapa hadits, ini merupakan tanda kenabian beliau SAW dalam memberitakan sesuatu yang belum terjadi. Seluruh hadits-hadits ini adalah shahih, sebagaimana terdapat dalam kitab shahih BUKHARI & MUSLIM dan lainnya. Diantaranya: 

    “Fitnah itu datangnya dari sana, fitnah itu datangnya dari arah sana,” sambil menunjuk ke arah timur (Najed). (HR. Muslim dalam Kitabul Fitan)

    “Akan keluar dari arah timur segolongan manusia yang membaca Al-Qur’an namun tidak sampai melewati kerongkongan mereka (tidak sampai ke hati), mereka keluar dari agama seperti anak panah keluar dari busurnya, mereka tidak akan bisa kembali seperti anak panah yang tak akan kembali ketempatnya, tanda-tanda mereka ialah bercukur (gondol).” 
    (HR Bukho-ri no 7123, Juz 6 hal 20748). 
    Hadis ini juga diriwayatkan oleh Ahmad, Ibnu Majah, Abu Daud, dan Ibnu Hibban

    Nabi SAW pernah berdo’a: 
    “Ya Allah, berikan kami berkah dalam negara Syam dan Yaman,” Para sahabat berkata: Dan dari Najed, wahai Rasulullah, beliau berdo’a: Ya Allah, berikan kami berkah dalam negara Syam dan Yaman, dan pada yang ketiga kalinya beliau SAW bersabda: “Di sana (Najed) akan ada keguncangan fitnah serta di sana pula akan muncul tanduk syaitan.”, 

    Dalam hadits-hadits tersebut dijelaskan, bahwa tanda-tanda mereka adalah bercukur (gundul). Dan ini adalah merupakan nas yang jelas ditujukan kepada para penganut Muhammad bin Abdul Wahab, karena dia telah memerintahkan setiap pengikutnya mencukur rambut kepalanya hingga mereka yang mengikuti tidak diperbolehkan berpaling dari majlisnya sebelum bercukur gundul. 
    Hal seperti ini tidak pernah terjadi pada aliran-aliran sesat lain sebelumnya. Seperti yang telah dikatakan oleh Sayyid Abdurrahman Al-Ahdal: 

    “Tidak perlu kita menulis buku untuk menolak Muhammad bin Abdul Wahab, karena sudah cukup ditolak oleh hadits-hadits Rasulullah SAW itu sendiri yang telah menegaskan bahwa tanda-tanda mereka adalah bercukur (gundul), karena ahli bid’ah sebelumnya tidak pernah berbuat demikian. 

    Al-Allamah Sayyid AIwi bin Ahmad bin Hasan bin Al-Quthub Abdullah AI-Haddad menyebutkan dalam kitabnya Jala'udz Dzolam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abbas bin Abdul Muthalib dari Nabi SAW: 

    “Akan keluar di abad kedua belas nanti di lembah BANY HANIFAH seorang lelaki, yang tingkahnya bagaikan sapi jantan (sombong), lidahnya selalu menjilat bibirnya yang besar, pada zaman itu banyak terjadi kekacauan, mereka menghalalkan harta kaum muslimin, diambil untuk berdagang dan menghalalkan darah kaum muslimin”. AI-Hadits.

    Sumber: 
    Wikipedia: Muhammad bin Adbul Wahhab
    ElHooda: Muhammad Bin Abdul Wahhab
    Mohammad Hanif: Sejarah Penggagas Ajaran Tanpa Madzhab
    Reuters: Holy City of Mecca turn to Vegas

    Nasihat kami bagi seluruh umat Islam untuk berhati-hati dalam membaca kitab atau artikel yang merujuk kepada Muhammad bin Abdul Wahhab ini. 
    Semoga Alloh SWT merahmati Syeikh Muhammad bin Abdul Wahhab, mengampuni segala kesalahan beliau dan memberikan pahala sesuai dengan amal baik perbuatan beliau. Amin.

    Read More

    Senin, 08 Februari 2016

    Unknown

    Video: Adab Ulama bertemu Ulama


    Video: Adab Ulama bertemu Ulama


    Lihatlah bagaimana seorang Ulama berketurunan Rasulullah, Syeikh Habib Ali Al-Jifri menunjukkan adab dan menghormati Ulama Besar Syria As-Syahid Mihrab Syeikh Dr. Ramadhan Al-Bouti.

    Saat itu Syeikh Dr. Ramadhan Al-Bouti menghadiri Majlis Ilmu Habib Ali Al-Jufri.

    Begitulah adab sesama ulama. Semakin berilmu semakin Tawaddu. Lihatlah sendiri adab yang tinggi ditunjukkan oleh ulama' keturunan Rasulullah kepada guru beliau. Tapi sayangnya mereka inilah yang diperkecilkan, direndahkan-rendahkan, dihina dan sebagainya oleh 'golongan' Pembenci Habaib.

    Semoga kita tergolong didalam golongan yang memuliakan ulama dan menghormati mereka. Aamiin.

    Janganlah kita memusuhi Ulama dan Wali-Wali ALLAH. Hadith qudsi : 'Barangsiapa menyakiti para waliKu , Aku isytiharkan perang ke atasnya '

    Semoga bermanfaat kepada semua.


    Sumber: https://www.facebook.com/habibalienglish/videos/vb.519065148191407/826581307439788/?type=2&theater

    Read More
    Unknown

    Habib Ali Al-Jifri

  • Nama: Ali Zainal Abidin bin Abdulrahman Al-Jifri
  • Gelar: Habib Ali Al-Jifri
  • Lahir: 1971 M atau 1391 H
  • Asal: Yaman
  • Madzhab: Sunni - Syafi'i

  • Habib Ali Zainal Abidin bin Abdurrahman Al-Jifri dilahirkan di kota Jeddah, Arab Saudi tepat sebelum fajar pada hari Jumaat, 16 April 1971 bertepatan 20 Safar 1391 H, dari orang tua yang sampai pada keturunan Imam Hussein bin Ali ra.
    Berwajah tampan dengan sosoknya yang tinggi besar dan berbadan tegap. Jubah dan sorban yang dikenakan membuatnya lebih berwibawa. Saat ini beliau menjadi idola dan panutan para kawula muda di negara-negara Timur Tengah. Dialah Habib Ali Zainal Abidin bin Abdurrahman Al Jufri. Ayah beliau pernah menjabat sebagai Wakil Presiden Yaman Selatan, saat negeri Yaman belum menjadi Negara kesatuan seperti sekarang ini. Sejak kecil Habib Ali berguru kepada Al Maghfurlah Al Imam Al Habib abdulqadir bin Ahmad Assegaf, Jeddah, Saudi Arabia. Beliau mendapatkan nadzrah (pandangan) khusus dari Al Imam Al Habib abdulqadir bin Ahmad Assegaf. Kemudian Al Imam Al Habib abdulqadir bin Ahmad Assegaf memerintahkan beliau untuk mengikuti Habib Umar bin Muhammad bin Hafidz bin Syeikh Abibakar dan beliau termasuk generasi awal murid-murid Habib Umar bin Hafidz. Sejak awal keistimewaan Habib Ali Al Jufri sudah nampak baik bakat suluknya maupun keistimewaan akalnya yang tajam dan cerdas melampaui murid-murid lainnya.

    Beliau berdakwah menyeru manusia kepada Allah dan Rasul-Nya dengan berjalan di atas manhaj salafunasshalihin dengan thariqah ba`alawi dan madzhab Syafi`i. Karena keikhlasannya yang tinggi, maka Allah pun mengangkat namanya. Kini beliau aktif berdakwah kesegala penjuru dunia, masuk dikalangan yang paling bawah, diantaranya suku-suku di pedalaman Afrika, hingga kalangan paling atas, seperti keluarga keamiran di Uni Emirat Arab. Bakan sekarang di Uni Emirat Arab beliau diangkat menjadi Rais Musytasyar Dini, di Indonesia setingkat dengan jabatan ketua MUI. Beliau diterima mulai dari kalangan awam, hingga kalangan cendekiawan seperti: Assyeikh Ali Jum`ah (Mufti Mesir), Assyiekh Muhammad Sa`id Ramadhan(Mufti Syuria), Assyeikh Bayyah, serta ulama-ulama besar lainnya di zaman ini. Usianya belum mencapai 40 tahun, namun ilmua dan budi pekertinya sangatlah agung. Beliau berdakwah kebeberapa negara didunia, diantaranya di Timur Tengah, Uni EMirat Arab, Saudi Arabia, Yaman, Oman, Syuria, Libanon, dll. Kawasan Asia diantaranya India, Pakistan, Brunai, Malaysia, Thailand, Indonesia, dll. Kawasan Afrika diantaranya Mesir, Sudan, Somalia, dll. Negara-negara kawasan Eropa TImur, hingga negara-negara barat, diantaranya: Inggris, Denmark, Jerman, Amerika Serikat, dll. Terutama Inggris, hamper setiap tahun dikunjunginya. Di Timur Tengah siapa tidak kenal Habib Ali Al Jufri, beliau menapaki jejak inernasionalnya mulai dari Negara Mesir, banyak sekali para artis dan seniman yang bertaubat ditangannya, hingga pemerintah Mesir merasa khawatir bahwa hal ini akan memberikan dampak buruk bagi industri perfilman di Mesir, yang merupakan salah satu sumber penghasilan utama negri Mesir setelah pariwisata. Artis yang dulunya terbuka jadi berjilbab, yang dulunya aktor menjadi da`I,seperti Wajdi Al `Arabi, aktor kawakan di Mesir, dan masih banyak lagi lainnya. Pemerintah Mesir akhirnya melarang Habib Ali Al Jufri untuk berdakwah di Mesir. Namun itu tidak menyurutkan langkah dakwahnya, beliau malah meluaskan dakwahnya keberbagai negeri arab lainnya. Maka meluaslah pengaruhnya,karena cara dakwah beliau yang sejuk, simpatik, dengan pandangan-pandangannya yang cerdas, tajam serta pembawaannya menarik hati dan akhlak luhurnya yang dapat mempengaruhi orang yang duduk dengannya. Pada akhirnya beliau menjadikan ABU DHABI sebagai tempat tinggal dan aktifitas dakwahnya dan secara rutin beliau tampil dibeberapa stasiun televise di negara-negara Arab.
    Dalam penyampaiannya, kata-kata Habib Ali Al Jufri menyentuh akal dan hati manusia. Di Jerman, beliau membuat jama`ah masjid sebanyak tiga lantai menangis tersedu-sedu mendengaar ceramahnya, di Inggris beliau punya andil besar dalam pelaksanaan Maulid Nabi di Stadion Wembley, di Denmark, beliau mengadakan jumpa pers dengan kalangan media massa saat memanasnya peristiwa kartun Nabi Muhammad SAW. SSetiap tahunnya beliau menjadi pembicaraan rutin dalam Dauroh (Pesantren kilat) Internasional yang diadakan oleh Al Habib Umar bin Hafidz di Pondok Pesantren Darul Mustafa Tarim, Hadramaut. Dalam Daurah tersebut Habib Ali menyampaikan Fikrah Dakwah (ide-ide baru dan cemerlang dalam dunia dakwah). Al Habib Umar bin Hafidz mempercayakan topik ini kepada beliau karena keluasan wawasan Habib Ali tentang metode dakwah internasional. Berbagai aktifitas dakwah Habib Ali Al Jufri selengkapnya dapat di ikuti di website beliau: www.alhabibali.org. Website ini memberitakan sebagian aktivitas beliau yang sangat padat.
    Para da`i muda di Timur Tengah beliau rangkul, para pemuda yang berbakat beliau bimbing dan diarahkan kepada manhaj salafuna shalihin. Beliau sangat suka duduk bersama para pemuda dan mengadakan dialog terbuka secara bebas.
    Metode dakwah Habib Ali Al Jufri merupakan salah satu bentuk representasi dari manhaj dakwah Ahlussunnah wal jama`ah dengan berjalan diatas jalan para salafunasshalihin dari kalangan keluarga ba`alawi, yaitu dakwah bil hikmah wal mauidhotil hasanah serta di iringi dakwah `ala bashiroh atau dakwah dengan menggunakan pandangan mata hati yang jernih.
    Semoga Allah SWT menjaga kesehatan beliau, memudahkan segala urusan beliau dan memanjangkan usia beliau amin….dan semoga para da`i muda dapat bercermin pada metode dakwah beliau. Wallahu a`lam.

    Nasab

    Habib Ali Zainal Abidin bin Abdul Rahman bin Ali bin Alawi bin Muhammad bin Ali bin Alawi bin Ali bin Alawi bin Ahmad bin Abdul Rahman al-Maulah anak Arsha putera Muhammad Abdullah al-Tarisi bin Alawi al-Khawas putera Abu Bakar anak Jufri putra Muhammad putera Ali putera Muhammad putera Ahmad al-Faqih al-Muqaddam Muhammad bin Ali bin Sahab Mirbat Muhammad bin Ali Khalil Alawi Qassam anak putera Muhammad putera Alwi putera Ubaidullah Ahmad al-Muhajir ila Allah Isa putera Muhammad al-Naqib bin Ali al -Uraidhi bin Jaafar as-Sidiq bin Muhammad al-Baqir bin Ali Zain al-Abidin putera dari Hussein (cucu Rasulullah saw) anak dari Ali bin Abu Thalib, suami dari Fatimah al-Zahra puteri Rasulullah saw.
    Ibunya yang mulia puteri Marumah putera Hassan bin Alawi bin Alawi Hassan bin Ali al-Jufri.


    Pendidikan

    Habib Ali Al-Jufri mulai mempelajari ilmu sejak kanak-kanak lagi melalui gurunya yang pertama yaitu ibunya sendiri. Ibunya mempunyai pengaruh yang besar atas diri beliau dan dalam pelajaran dan rohani.
    Antara guru-guru beliau ialah:
    - Habib Abdul Qadir bin Ahmad Al-Saqqaf, Jeddah
    - Habib Ahmad Masyhur bin Taha Al-Haddad
    - Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki, Makkah
    - Habib Attas Al-Habsyi
    - Habib Abu Bakar Al-Masyhur Al-Adani
    - Habib Muhammad bin Abdullah Al-Hadar
    - Habib Umar bin Hafiz, Yaman, menjadi sahabatnya juga dari 1993 hingga 2003.
    Habib Ali Al-Jufri telah memberikan kelas untuk mengajar, bimbingan, nasihat, untuk membangunkan orang untuk tanggungjawab mereka dan untuk mengajak orang-orang kembali pada Allah dalam banyak negara, dimulai pada 1412 H/1991 di kota-kota dan desa-desa Yaman. Beliau memulai perjalanan di luar negeri 1414 H/1993 yang masih terus hari ini dan antaranya termasuk negara-negara berikut:
    - Arab: UAE, Jordan, Bahrain, Arab Saudi, Sudan, Suriah, Oman, Qatar, Kuwait, Lubnan, Libya, Mesir, Maroko, Mauritania, Kepulauan Komoro dan Djibouti.
    - Asia: Indonesia, Malaysia, Singapura, India, Bangladesh dan Sri Lanka.
    - Afrika: Kenya dan Tanzania.
    - Eropa: Britania Raya, Jerman, Perancis, Belgia, Belanda, Irlandia, Denmark, Bosnia & Herzegovina dan Turki.
    - Amerika: 3 perjalanan yang pertama adalah pada tahun 1419 H/1998, yang kedua adalah pada 1422 H/2001 dan yang ketiga yang pada 2002/1423, di samping juga mengunjungi Kanada.Mohon Maaf apabila ada kesalahan.


    Read More