Tampilkan postingan dengan label syafi'i. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label syafi'i. Tampilkan semua postingan

Kamis, 10 Maret 2016

Unknown

Diagram Posisi Kaum Tanpa Madzhab

Diagram posisi Kaun Tanpa Madzhab

Sebenarnya bagaimana peta perpecahan antara aliran-aliran tersebut?


Jadi begini, 90 % umat Islam itu pengikut madzhab empat, yaitu Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hanbali. 

Sedangkan yang 10 % ada yang Syiah, Zaidiyah, Khawarij (Ibadhiyah) dan Mu’tazilah.

Dari 90 % pengikut madzhab empat tersebut, apabila kita petakan akidah mereka adalah sebagai berikut:

1) Pengikut madzhab Hanafi, 30 % mengikuti akidah Asya’irah, dan 70 % mengikuti Maturidiyah
2) Pengikut madzhab Maliki dan Syafi’i, 100 % mengikuti Asya’irah
3) Pengikut madzhab Hanbali, dalam akidah pecah menjadi tiga kelompok. 



Pertama, mayoritas mereka, atau sekitar 60 % adalah pengikut Hasyawiyah, atau Mujassimah yang berkeyakinan Allah berdomisili di Arasy. Kelompok ini disebut dengan Ghulat al-Hanabilah (kaum ekstrem madzhab Hanbali).

Kedua, kelompok yang mengikuti madzhab Asya’iroh, seperti Abul Wafa Ibnu ‘Aqil, Rizqullah bin Abdul Wahhab al-Tamimi dan Abul Faraj Ibnul Jauzi. Kelompok ini disebut dengan fudhala’ al-hanabilah (kaum utama madzhab Hanbali).

Ketiga, mengikuti ajaran tafwidh, yakni tidak melakukan ta’wil terhadap nash-nash mutasyabihat, tapi menyerahkan maknanya kepada Allah subhanahu wata’ala. 

Ketiga kelompok tersebut sama-sama mengklaim sebagai representasi pemikiran Imam Ahmad bin Hanbal dalam bidang akidah. Akan tetapi meskipun ketiga kelompok tersebut berbeda dalam soal-soal akidah, mereka sama-sama mengikuti ajaran tashawuf, melakukan istighatsah, tawasul, tabaruk dan ziarah kubur.
Pada abad ketujuh Hijriah, kelompok Ghulat al-Hanabilah hampir habis dan beralih haluan mengikuti Asya’irah, berkat kebijakan Raja Zhahir Baibars al-Bindiqdari, yang mengangkat Hakim Agung (Qadhi al-Qudhat) dari madzhab empat. Sehingga keempat madzhab tersebut sering melakukan diskusi, dan dampak positifnya, penyakit tajsim (menjasmanikan Tuhan) yang menggerogoti Hanabilah, sedikit demi sedikit terobati dan hampir habis. 

Hanya saja setelah itu lahir Syaikh Ibnu Taimiyah, yang kemudian berhasil meradikalisasi madzhab Hanbali dalam bidang ushul dan furu’. Dalam bidang akidah, Ibnu Taimiyah mengembalikan mayoritas Hanabilah menjadi pengikut Hasyawiyyah dan membabat habis kelompok Fudhala’ al-Hanabilah yang mengikuti Asya’irah. Sedangkan dalam bidang furu’, Ibnu Taimiyah mengharamkan istighatsah, tawasul, tabaruk dan ziarah makam Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan wali dengan tujuan tabaruk. Dalam rangka radikalisasi tersebut, Ibnu Taimiyah membuat perangkat ideologi yang disebut dengan pembagian Tauhid menjadi tiga, yaitu Rububiyah, Uluhiyah dan Asma wa Shifat. Tauhid Uluhiyah dibuat untuk melarang amalan-amalan seperti istighatsah, tawasul, tabaruk dan ziarah. Sedangkan Tauhid Asma wa Shifat dibuat untuk menyesatkan mayoritas umat Islam yang berakidah tanzih (menyucikan Allah dari menyerupai makhluk) dan melakukan ta’wil terhadap nash-nash mutasyabihat. Akan tetapi perlu dicatat, Ibnu Taimiyah masih membolehkan membaca al-Qur’an di kuburan, tahlilan, dzikir bersama, maulid dan beberapa tradisi shufi lainnya. 

Pada abad kedua belas Hijriah, muncul Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab al-Najdi, pendiri Kaum Tanpa Madzhab. Dia meradikalisasi madzhab Hanbali, lebih keras dari Ibnu Taimiyah, dengan mengadopsi akidah Hasyawiyah. Hanya saja, beberapa amalan yang diharamkan oleh Ibnu Taimiyah, seperti istighatsah, tawasul, tabaruk dan ziarah dengan alasan Tauhid Uluhiyah, oleh pendiri Wahabi tersebut dinaikkan status hukumnya menjadi syirik akbar, murtad dan kafir. Sedangkan beberapa tradisi shufi yang dibolehkan oleh Ibnu Taimiyah, seperti dzikir bersama, membaca al-Qur’an di kuburan, maulid, tahlilan dan semacamnya diharamkan dengan alasan bid’ah dhalalah dan pemurnian agama.

Sumber: MusliMediaNews: Mungkinkah NU dan Wahabi Bersatu
Read More

Rabu, 17 Februari 2016

Unknown

Imam At Thabari

Imam At Thabari


  • Nama: Abu Ja'far Muhammad bin Jarir bin Yazid bin Katsir bin Ghalib al-Amali ath-Thabari
  • Gelar: Hujjatul Islam
  • Lahir: 839 M atau 224 H
  • Wafat: 923 M atau 310 H 
  • Asal: Persia
  • Madzhab: Sunni - Syafi'i



  • Semasa hidupnya, ia belajar di kota Ray, Baghdad, kemudian Syam dan juga di Mesir.
    Di antara karyanya yang terkenal adalah Tarikh ar-Rusul wa al-Muluk (Sejarah Para Nabi dan Raja) atau lebih dikenal sebagai Tarikh ath-Thabari. Kitab ini berisi sejarah dunia hingga tahun 915, dan terkenal karena keakuratannya dalam menuliskan sejarah Arab dan Muslim. Karya lainnya yang juga terkenal berupa tafsir Quran bernama Tafsir al-Thabari, yang sering digunakan sebagai sumber oleh pemikir muslim lainnya, seperti Al-Baghawi, as-Suyuthi dan juga Ibnu Katsir.
    Imam At-Thabari terkenal sebagai seorang 'alim yang terkemuka pada masanya. mengenai sejarah hidupnya, al-Khatib al-baghdadi mencatat beberapa karakter beliau yang menggambarkan betapa luasnya ilmu yang beliau miliki.
    Imam At-Thabari dikenal sebagai ulama yang mampu menghafal al-Qur'an sekaligus memahami maksud dan maknanya, Faqih dalam bidang hukum, menguasai Sunnah dengan baik, meliputi sahih-saqim nya maupun nasikh-mansukh nya, bahkan perkataan para shahabat Rasulullah juga beliau kuasai dengan baik. beliau juga menguasai tentang sejarah.
    Senada dengan al-Khatib al-Baghdadi, al-Abbas bin Suraij juga mengemukakan pandangannya, yaitu bahwa Imam At-thabari merupakan seorang 'alim dalam beberapa bidang ilmu, seperti ilmu qira'ah, tafsir, hadits, fiqh dan tarikh / sejarah.
    Selain dikenal sebagai seorang yang 'alim 'allamah, beliau juga dikenal sebagai orang yang zuhud. beliau menghabiskan sebagian besar umurnya untuk ilmu dan menjalani kehidupannya dengan penuh kesederhanaan. kesederhanaannya tercermin dari harta yang ia miliki tidak lebih dari sekedar untuk memenuhi kebutuhannya, sehingga tidak mengherankan jika beliau selalu meolak jabatan untuk menjadi seorang qadhi atau hakim padahal beliau mampu untuk itu, dan jika beliau mau menerima jabatan tersebut, tentu hidupnya akan kaya. itulah sebagai gambaran kecil kehidupan beliau yang zuhud.

    Kehidupan Beliau

    Tanda-tanda kesuksesan terlihat jelas pada diri Muhammad bin Jarir ath-Thabari sejak masih remaja. Beliau telah berhasil menghafal Al-Quran pada umur 7 tahun dan mulai menjadi imam shalat pada umur 8 tahun. Dan pada usia 9 tahun beliau sudah menulis kitab hadis. Kesuksesan ath-Thabari adalah berkat dorongan ayahnya yang selalu menuntutnya untuk terus belajar. Ayahnya selalu memberikan semangat kepada ath-Thabari untuk tetap rajin belajar dan menuntut ilmu. Beliau menghabiskan beberapa tahun dari umurnya menimba ilmu di kota Amol, kota kelahirannya, lewat para ulama dan guru setempat. Ketika beranjak remaja, keinginan belajarnya meningkat dan sering keluar kota untuk memperdalam menimba ilmu, sering berpindah-pindah tempat, dan tinggal di antara kota-kota thibristan. 

    Tidak hanya itu, ia juga merambah daerah-daerah tetangga sekitar kotanya, daerah yang banyak terdapat berkumpulnya para ulama. Ia menimba ilmu dari mereka, seperti ilmu tafsir, hadis dan sejarah. Setelah selesai menimba ilmu dari mereka. Ath-Thabari merasa belum cukup dan memutuskan untuk pergi menuju kota baghdad. Sebelumnya, beliau pernah mendengar nama besar seorang ulama terkenal di Baghdad, Ahmad bin Hanbal. Karena itu, ia sangat ingin bertemu dengannya dan menimba ilmu sebanyak-banyaknya dari ulama terkenal tersebut. Akhirnya beliau berangkat ke kota Baghdad pada tahun 241 H/855 M. Namun cita-citanya itu kandas ketika beliau baru sampai di pinggiran kota Baghdad setelah mendengar berita kematian sang ulama besar yang dikaguminya itu, Ahmad Bin Hambal. Keinginannya untuk meneruskan perjalanan ke kota Baghdad pun menurun, hilang harapannya. Namun kecintaan terhadap ilmu dan pelajaran tetap terjaga kuat dan terus berusaha mencari sumber pengetahuan lainnya. Ath-Thabari tidak langsung ingin segera kembali ke kota asalnya, tetapi ia malah berbelok arah menuju kota Basrah, di mana di kota itu berkumpul sejumlah ulama besar. 

    Kemudian, ia pergi lagi ke kota Wasith dan menghabiskan beberapa waktu di kota tersebut. Barulah setelah itu, ath-Thabari pindah lagi ke kota Kuffah. Di kota terakhir inilah ia belajar ilmu hadis dan qira’at pada ulama dan ahlinya langsung. Selanjutnya, ia pergi juga ke kota Baghdad untuk melengkapi pelajarannya lewat ulama yang lebih ahli. 

    Karya Tulis Beliau

    Sebagai seorang ulama besar, imam at-Thabari tentu saja memiliki banyak karya ilmiah berupa kitab-kitab dalam berbagai disiplin ilmu keislaman.
    Diantara karya beliau adalah :
    1. Jami'al Bayan fi Tafsiril Qur'an, merupakan Kitab Tafsir al-Qur'an yang lenih dikenal sebagai Tafsir at-Thabari.
    2. al-Qira'at wa Tanzil al-Qur'an, merupakan Kitab dalam bidang qira'at al-Qur'an (18 jilid).
    3. Dalam bidang Hadits, karya beliau adalah :
    a. Tahdib al-Atsar wa Tafshil ats-Tsabit 'an Rasulillah minal Akhbar, yang disebut oleh al-Qifthy dengan nama Syarah a-Atsar
    b. Kitab al-Musnad al-mujarrod yang menghimpun hadits-hadits dari guru beliau
    c. Kitab Fi 'Ibarat ar-Ra'yu, kitab ini juga berisi tentang hadits, namun penulisannya tidak selesai sampai sang Imam wafat.
    4. Dalam bidang Fiqh, antara lain :
    a. Ikhtilaf al-Fuqaha yang juga dinamai Ikhtilaf Ulama al-'Ashar fi Ahkam Syar'i al-Islam
    b. Lathif al-Qawi fi Ahkam Syar'i al-Islam
    c. al-Khafif fi Ahkam Syar'il Islam
    d. Mukhtashar Manasik haji
    e. Mukhtashar fi al-Fara'dl
    f. ar-Radd 'ala Ibn 'Abdul Hakam 'ala Malik
    g. Basith al-Qawi fi Ahkam Syar'il Islam
    h. ar-Radd 'ala Dzi al-Asfar
    i. Adab al-Qudhat.
    5. Dalam bidang Ushuluddin, karya beliau antara lain:
    a. Risalat al-Bashir fi Ma'alim ad-Din
    b.al-Mujaz fi Ushul
    6. Kitab Adab an-Nufus al-Jayyidah wal Akhlaq an-Nafisah, merupakan kitab dalam bidang akhlaq/ etika
    7. Dalam bidang Sejarah, beliau menulis beberapa kitab, diantaranya :
    a. Tarikh al-umam wa al-Muluk yang dikenal dengan nama tarikh at-Thabari
    b. Dzail al-Mudzayyal
    c. Fadha'il 'Ali bin Abi Thalib
    d. Fadha'il Abu Bakar wa Umar
    e. Fadha'il al-'Abbas.

    Itulah beberapa karya beliau yang menunjukkan bahwa beliau merupakan seorang ulama yang produktif dalam mengarang. namun cukup disayangkan, sebagian besar kitab-kitab tersebut hilang atau tidak ditemukan lagi.
    Read More
    Unknown

    Imam Al Ghazali

    Imam Al-Ghazali



  • Nama: Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al Ghazali ath-Thusi asy-Syafi'i
  • Gelar: Hujjatul Islam
  • Lahir: 1058 M atau 450 H
  • Wafat: 1111 M atau 505 H 
  • Asal: Iran
  • Madzhab: Sunni - Syafi'i



  • Terkenal dengan hujjatul Islam (argumentator islam) karena jasanya yang besar di dalam menjaga islam dari pengaruh ajaran bid’ah dan aliran rasionalisme yunani. Beliau lahir pada tahun 450 H, bertepatan dengan 1059 M di Ghazalah suatu kota kecil yang terlelak di Thus wilayah Khurasah yang waktu itu merupakan salah satu pusat ilmu pengetahuan di dunia islam.
    Beliau dilahirkan dari keluarga yang sangat sederhana, ayahnya adalah seorang pengrajin wol sekaligus sebagai pedagang hasil tenunannya, dan taat beragama, mempunyai semangat keagamaan yang tinggi, seperti terlihat pada simpatiknya kepada ‘ulama dan mengharapkan anaknya menjadi ‘ulama yang selalu memberi nasehat kepada umat.
    Kitab Ihya Ulumuddin karangan Imam Al Ghazali
    Itulah sebabnya, ayahnya sebelum wafat menitipkan anaknya (imam al-Ghazali) dan saudarnya (Ahmad), ketika itu masih kecil dititipkan pada teman ayahnya, seorang ahli tasawuf untuk mendapatkan bimbingan dan didikan.
    Meskipun dibesarkan dalam keadaan keluarga yang sederhana tidak menjadikan beliau merasa rendah atau malas, justru beliau semangat dalam mempelajari berbagai ilmu pengetahuan, dikemudian beliau menjelma menjadi seorang ‘ulama besar dan seorang sufi. Dan diperkirakan imam Ghazali hidup dalam kesederhanaan sebagai seorang sufi sampai usia 15 tahun (450-456)



    Kehidupan Beliau


    Perjalanan Imam Ghazali dalam memulai pendidikannya di wilayah kelahirannya. Kepada ayahnya beliau belajar Al-qur’an dan dasar-dasar ilmu keagamaan ynag lain, di lanjutkan di Thus dengan mempelajari dasar-dasar pengetahuan. Setelah beliau belajar pada teman ayahnya (seorang ahli tasawuf), ketika beliau tidak mampu lagi memenuhi kebutuhan keduanya, beliau mengajarkan mereka masuk ke sekolah untuk memperoleh selain ilmu pengetahuan. Beliau mempelajari pokok islam (al-qur’an dan sunnah nabi). Diantara kitab-kitab hadist yang beliau pelajari, antara lain :
    a. Shahih Bukhori, beliau belajar dari Abu Sahl Muhammad bin Abdullah Al Hafshi
    b. Sunan Abi Daud, beliau belajar dari Al Hakim Abu Al Fath Al Hakimi
    c. Maulid An Nabi, beliau belajar pada dari Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad Al Khawani
    d. Shahih Al Bukhari dan Shahih Al Muslim, beliau belajar dari Abu Al Fatyan ‘Umar Al Ru’asai.[4]
    Begitu pula diantarnya bidang-bidang ilmu yang di kuasai imam al-Ghazli (ushul al din) ushul fiqh, mantiq, flsafat, dan tasawuf
    Santunan kehidupan sebagaimana lazimnya waktu beliau untuk belajar fiqh pada imam Kharamain, beliau dalam belajar bersungguh-sungguh sampai mahir dalam madzhab, khilaf (perbedaan pendapat), perdebatan, mantik, membaca hikmah, dan falsafah, imam Kharamain menyikapinya sebagai lautan yang luas.
    Setelah imam kharamain wafat kemudian beliau pergi ke Baghdad dan mengajar di Nizhamiyah. Beliau mengarang tentang madzhab kitab al-basith, al- wasith, al-wajiz, dan al- khulashoh. Dalam ushul fiqih beliau mengarang kitab al-mustasfa, kitab al- mankhul, bidayatul hidayah, al-ma’lud filkhilafiyah, syifaal alil fi bayani masa ilit dan kitab-kitab lain dalam berbagai fan.
    Antara tahun 465-470 H. imam Al-Ghazali belajar fiqih dan ilmu-ilmu dasar yang lain dari Ahmad Al- Radzaski di Thus, dan dari Abu Nasral Ismailli di Jurjan. Setelah imam al-Ghazali kembali ke Thus, dan selama 3 tahun di tempat kelahirannya, beliau mengaji ulang pelajaran di Jurjan sambil belajar tasawuf kekpada Yusuf Al Nassaj (w-487 H). pada tahun itu imam Al-Ghazali berkenalan dengan al-Juwaini dan memperoleh ilmu kalam dan mantiq. Menurut Abdul Ghofur itu Ismail Al- Farisi, imam al-Ghozali menjadi pembahas paling pintar di zamanya. Imam Haramain merasa bangga dengan pretasi muridnya.
    Walaupun kemashuran telah diraih imam al Ghazali beliau tetap setia terhadap gurunya sampai dengan wafatnya pada tahun 478 H. sebelum al Juwani wafat, beliau memperkenalkan imam al Ghazali kepada Nidzham Al Mulk, perdana mentri sultan Saljuk Malik Syah, Nidzham adalah pendiri madrasah al nidzhamiyah. Di Naisabur ini imam al Ghazali sempat belajar tasawuf kepada Abu Ali Al Faldl Ibn Muhammad Ibn Ali Al Farmadi (w.477 H/1084 M).
    Setelah gurunya wafat, al Ghazali meninggalkan Naisabur menuju negri Askar untuk berjumpa dengan Nidzham al Mulk. Di daerah ini beliau mendapat kehormatan untuk berdebat dengan ‘ulama. Dari perdebatan yang dimenengkan ini, namanya semakin populer dan disegani karena keluadan ilmunya. Pada tahun 484 H/1091 M, Imam al Ghazali diangkat menjadi guru besar di madrasah Nidzhamiyah, ini dijelaskan salam bukunya al mungkiz min dahalal. Selama megajar di madrasah dengan tekunnya imam al Ghozali mendalami filsafat secara otodidak, terutama pemikiran al Farabi, Ibn Sina Ibn miskawih dan Ikhwan Al Shafa. Penguasaanya terhadap filsafat terbukti dalam karyanya seperti al maqasid falsafah tuhaful al falasiyah.
    Pada tahun 488 H/1095 M, imam al Ghazali dilanda keraguan (skeptis) terhadap ilmu-ilmu yang dipelajarinya (hukum teologi dan filsafat). Keraguan pekerjaanya dan karya-karya yang dihasilkannya, sehingga beliau menderita penyakit selama dua bulan dan sulit diobati. Karena itu, imam al Ghazali tidak dapat menjalankan tugasnya sebagai guru besar di madrasah nidzhamiyah, yang akhirnya beliau meninggalkan Baghdad menuju kota Damaskus, selam kira-kira dua tahun imam al Ghazali di kota Damaskus beliau melakukan uzlah, riyadah, dan mujahadah. Kemudian beliau pihdah ke Bait al Maqdis Palestina untuk melakukan ibadah serupa. Sektelah itu tergerak hatinya untuk menunaikan ibadah haji dan menziarohi maqom Rosulullah SAW.
    Sepulang dari tanah suci, imam al Ghazali mengunjungi kota kelahirannya di Thus, disinilah beliau tetap berkhalwat dalam keadaan skeptis sampai berlangsung selama 10 tahun. Pada periode itulah beliau menulis karyanya yang terkenal ” ihya’ ‘ulumuddin al-din” the revival of the religious ( menghidupkan kembali ilmu agama).
    Karena disebabkan desakan pada madrasah nidzhamiyah di Naisabur tetapi berselang selam dua tahun. Kemudian beliau madrasah bagi para fuqoha dan jawiyah atau khanaqoh untuk para mustafifah. Di kota inilah (Thus) beliau wafat pada tahun 505 H / 1 desember 1111 M.
    Abul Fajar al-Jauzi dalam kitabnya al asabat ‘inda amanat mengatakan, Ahmad saudaranya imam al Ghazali berkata pada waktu shubuh, Abu Hamid berwudhu dan melakukan sholat, kemudian beliau berkata : Ambillah kain kafan untukku kemudian ia mengambil dan menciumnya lalu meletakkan diatas kedua matanya, beliau berkata ” Aku mendengar dan taat untuk menemui Al Malik kemudian menjulurkan kakinya dan menghadap kiblat. Imam al Ghazali yag bergelar hujjatul islam itu meninggal dunia menjelang matahari terbit di kota kelahirannya (Thus) pada hari senin 14 Jumadil Akir 505 H (1111 M). Imam al Ghazali dimakamkan di Zhahir al Tabiran, ibu kota Thus.



    Guru-guru Beliau

    Imam al Ghazali dalam perjalanan menuntut ilmunya mempunyai banyak guru, diantaranya guru-guru imam Al Ghazali sebagai berikut :

    1. Abu Sahl Muhammad Ibn Abdullah Al Hafsi, beliau mengajar imam Al Ghozali dengan kitab shohih bukhori.
    2. Abul Fath Al Hakimi At Thusi, beliau mengajar imam Al Ghozali dengan kitab sunan abi daud.
    3. Abdullah Muhammad Bin Ahmad Al Khawari, beliau mengajar imam Ghazali dengan kitab maulid an nabi
    4. Abu Al Fatyan ‘Umar Al Ru’asi, beliau mengajar imam Al Ghazali dengan kitab shohih Bukhori dan shohih Muslim.

    Dengan demikian guru-guru imam Al Ghazali tidak hanya mengajar dalam bidang tasawuf saja, akan tetapi beliau juga mempunyai guru-guru dalam bidang lainnya, bahkan kebanyakan guru-guru beliau dalam bidang hadist.

    Karya Tulis Beliau

    Imam Al Ghozali termasuk penulis yang tidak terbandingkan lagi, kalau karya imam Al Ghazali diperkirakan mencapai 300 kitab, diantaranya adalah :
    1. Maqhasid al falasifah (tujuan para filusuf), sebagai karangan yang pertama dan berisi masalah-masalah filsafah.
    2. Tahaful al falasifah (kekacauan pikiran para filusifi) buku ini dikarang sewaktu berada di Baghdad di kala jiwanya di landa keragu-raguan. Dalam buku ini Al Ghazali mengancam filsafat dan para filusuf dengan keras.
    3. Mi’yar al-‘ilmi/miyar almi (kriteria ilmu-ilmu).
    4. Ihya’ ulumuddin (menghidupkan kembali ilmu-ilmu agama). Kitab ini merupakan karyanya yang terbesar selama beberapa tahun ,dalam keadaan berpindah-pindah antara Damakus, Yerusalem, Hijaz, Dan Thus yang berisi panduan fiqih, tasawuf dan filsafat.
    5. Al munqiz min al dhalal (penyelamat dari kesesatan) kitab ini merupakan sejarah perkembangan alam pikiran Al Ghazali sendiri dan merefleksikan sikapnya terhadap beberapa macam ilmu serta jalan mencapai tuhan.
    6. Al-ma’arif al-aqliyah (pengetahuan yang nasional)
    7. Miskyat al anwar (lampu yang bersinar), kitab ini berisi pembahasan tentang akhlak dan tasawuf.
    8. Minhaj al abidin (jalan mengabdikan diri terhadap tuhan).
    9. Al iqtishad fi al i’tiqod (moderisasi dalam aqidah).
    10. Ayyuha al walad.
    11. Al musytasyfa
    12. Ilham al –awwam an ‘ilmal kalam.
    13. Mizan al amal.
    14. Akhlak al abros wa annajah min al asyhar (akhlak orang-orang baik dan kesalamatan dari kejahatan).
    15. Assrar ilmu addin (rahasia ilmu agama).
    16. Al washit (yang pertengahan) .
    17. Al wajiz (yang ringkas).
    18. Az-zariyah ilaa’ makarim asy syahi’ah (jalan menuju syariat yang mulia)
    19. Al hibr al masbuq fi nashihoh al mutuk (barang logam mulia uraian tentang nasehat kepada para raja).
    20. Al mankhul minta’liqoh al ushul (pilihan yang tersaing dari noda-noda ushul fiqih).
    21. Syifa al qolil fibayan alsyaban wa al mukhil wa masalik at ta’wil (obat orang dengki penjelasan tentang hal-hal samar serta cara-cara penglihatan).
    22. Tarbiyatul aulad fi islam (pendidikan anak di dalam islam)
    23. Tahzib al ushul (elaborasi terhadap ilmu ushul fiqiha).
    24. Al ikhtishos fi al ‘itishod (kesederhanaan dalam beri’tiqod
    25. Yaaqut at ta’wil (permata ta’wil dalam menafsirkan al qur’an).
    Read More

    Senin, 08 Februari 2016

    Unknown

    Said Ramadhan Al-Buthi


  • Nama: Muhammad Said Ramadhan Al-Buthi
  • Gelar: Syeikh Al-Buthi
  • Lahir: 1929M atau 1348 H
  • Wafat: 2013 M atau 1435 H 
  • Asal: Syria
  • Madzhab: Sunni - Syafi'i


  • Dr. Muhammad Sa’id Ramadhan Al-Buthi lahir pada tahun 1929 di Desa Jilka, Pulau Buthan (Ibn Umar), sebuah kampung yang terletak di bagian utara perbatasan antara Turki dan Irak. Ia  berasal dari suku Kurdi, yang hidup da­lam berbagai tekanan kekuasaan Arab Irak selama berabad-abad.
    Bersama ayahnya, Syaikh Mula Ramadhan, dan anggota keluarganya yang lain, Al-Buthi hijrah ke Damaskus pada saat umurnya baru empat tahun. Ayahnya adalah sosok yang amat dikaguminya.
    Dr. Muhammad Said Ramadhan Al-Buthi
    Pendidikan sang ayah sangat mem­be­kas dalam sisi kehidupan intelektual­nya. Ayahnya memang dikenal sebagai seorang ulama besar di Damaskus. Bu­kan saja pandai mengajar murid-murid dan masyarakat di kota Damaskus, Syaikh Mula juga sosok ayah yang pe­nuh perhatian dan tanggung jawab bagi pendidikan anak-anaknya.
    Dalam karyanya yang mengupas biografi kehidupan sang ayah, Al-Fiqh al-Kamilah li Hayah asy-Syaikh Mula Al-Buthi Min Wiladatihi Ila Wafatihi, Syaikh Al-Buthi mengurai awal perkembangan Syaikh Mula dari masa kanak-kanak hingga masa remaja saat turut berpe­rang dalam Perang Dunia Pertama. Ke­mudian menceritakan pernikahan ayah­nya, berangkat haji, hingga alasan ber­hijrah ke Damaskus, yang di kemudian hari menjadi awal kehidupan baru bagi keluarga asal Kurdi itu.
    Masih dalam karyanya ini, Al-Buthi menceritakan kesibukan ayahnya dalam belajar dan mengajar, menjadi imam dan berdakwah, pola pendidikan yang dite­rapkannya bagi anak-anaknya, ibadah dan kezuhudannya, kecintaannya ke­pada orang-orang shalih yang masih hi­dup maupun yang telah wafat, hubungan baik ayahnya dengan para ulama Da­maskus di masa itu, seperti Syaikh Abu Al-Khayr Al-Madani, Syaikh Badruddin Al-Hasani, Syaikh Ibrahim Al-Gha­layayni, Syaikh Hasan Jabnakah, dan lainnya, yang menjadi mata rantai tabarruk bagi Al-Buthi. Begitu besarnya atsar (pengaruh) dan kecintaan sang ayah, hingga Al-Buthi begitu terpacu untuk menulis karyanya tersebut.


    Dari Damaskus ke Kairo

    Sa’id Ramadhan Al-Buthi muda me­nyelesaikan pendidikan menengahnya di Institut At-Tawjih Al-Islami di Damas­kus. Kemudian pada tahun 1953 ia me­ninggalkan Damaskus untuk menuju Me­sir demi melanjutkan studinya di Univer­sitas Al-Azhar. Dalam tempo dua tahun, ia berhasil menyelesaikan pendidikan sarjana S1 di bidang syari’ah. Pada ta­hun berikutnya di universitas yang sama, ia mengambil kuliah di Fakultas Bahasa Arab hingga lulus dalam waktu yang cu­kup singkat dengan sangat memuaskan dan mendapat izin mengajar bahasa Arab.
    Kemahiran Al-Buthi dalam bahasa Arab tak diragukan. Sekalipun bahasa ini adalah bahasa ibu orang-orang Arab seperti dirinya, sebagaimana bahasa-bahasa terkemuka dalam khazanah per­adaban dunia, ada orang-orang yang me­mang dikenal kepakarannya dalam bidang bahasa, dan Al-Buthi adalah sa­lah satunya yang menguasai bahasa ibu­nya tersebut. Di samping itu, kecende­rungan kepada bahasa dan budaya mem­buatnya senang untuk menekuni ba­hasa selain bahasa Arab, seperti ba­hasa Turki, Kurdi, bahkan bahasa Ing­gris.
    Selulusnya dari Al-Azhar, Al-Buthi kembali ke Damaskus. Ia pun diminta untuk membantu mengajar di Fakultas Syari’ah pada tahun 1960, hingga ber­turut-turut menduduki jabatan struktural, dimulai dari pengajar tetap, menjadi wa­kil dekan, hingga menjadi dekan di fakul­tas tersebut pada tahun 1960.
    Lantaran keluasan pengetahuannya, ia dipercaya untuk memimpin sebuah lembaga penelitian theologi dan agama-agama di universitas bergengsi di Timur Tengah itu.
    Tak lama kemudian, Al-Buthi diutus pimpinan rektorat kampusnya untuk melanjutkan program doktoral bidang ushul syari’ah di Al-Azhar hingga lulus dan berhak mendapatkan gelar doktor di bidang ilmu-ilmu syari’ah.
    Aktivitasnya sangat padat. Ia aktif mengikuti berbagai seminar dan konfe­rensi tingkat dunia di berbagai negara di Timur Tengah, Amerika, maupun Eropa. Hingga saat ini ia masih menjabat salah seorang anggota di lembaga pene­li­tian kebudayaan Islam Kerajaan Yordania, anggota Majelis Tinggi Pena­sihat Yayasan Thabah Abu Dhabi, dan anggota di Majelis Tinggi Senat di Universitas Oxford Inggris.

    Penulis yang Sangat Produktif
    Al-Buthi adalah seorang penulis yang sangat produktif. Karyanya menca­pai lebih dari 60 buah, meliputi bidang syari’ah, sastra, filsafat, sosial, masalah-masalah kebudayaan, dan lain-lain. Be­berapa karyanya yang dapat disebutkan di sini, antara lain, Al-Mar‘ah Bayn Thughyan an-Nizham al-Gharbiyy wa Latha‘if at-Tasyri’ ar-Rabbaniyy, Al-Islam wa al-‘Ashr, Awrubah min at-Tiqniyyah ila ar-Ruhaniyyah: Musykilah al-Jisr al-Maqthu’, Barnamij Dirasah Qur‘aniyyah, Syakhshiyyat Istawqafatni, Syarh wa Tahlil Al-Hikam Al-‘Atha‘iyah, Kubra al-Yaqiniyyat al-Kauniyyah, Hadzihi Musy­ki­latuhum, Wa Hadzihi Musykilatuna, Kalimat fi Munasabat, Musyawarat Ijtima’iyyah min Hishad al-Internet, Ma’a an-Nas Musyawarat wa Fatawa, Manhaj al-Hadharah al-Insaniyyah fi Al-Qur‘an, Hadza Ma Qultuhu Amama Ba’dh ar-Ru‘asa‘ wa al-Muluk, Yughalithunaka Idz Yaqulun, Min al-Fikr wa al-Qalb, La Ya‘tihi al-Bathil, Fiqh as-Sirah, Al-Hubb fi al-Qur‘an wa Dawr al-Hubb fi Hayah al-Insan, Al-Islam Maladz Kull al-Muj­tama’at al-Insaniyyah, Azh-Zhullamiyyun wa an-Nuraniyyun.
    Gaya bahasa Al-Buthi istimewa dan menarik. Tulisannya proporsional de­ngan tema-tema yang diusungnya. Tu­lisannya tidak melenceng dan keluar dari akar permasalahan dan kaya akan sum­ber-sumber rujukan, terutama dari sum­ber-sumber rujukan yang juga diambil lawan-lawan debatnya.
    Akan tetapi bahasanya terkadang ti­dak bisa dipahami dengan mudah oleh ka­langan bukan pelajar, disebabkan un­sur falsafah dan manthiq, yang memang ke­ahliannya. Oleh karena itu, majelis dan ha­laqah yang diasuhnya di berbagai tempat di keramaian kota Damaskus menjadi sarana untuk memahami karya-karyanya.
    Walau demikian, sebagaimana di­tuturkan pecinta Al-Buthi, di samping mam­pu membedah logika, kata-kata Al-Buthi juga sangat menyentuh, sehingga mampu membuat pembacanya berurai air mata.

    Pembela Madzhab yang Empat

    Syaikh Muhammad Sa’id Ramadhan Al-Buthi mengasuh halaqah pengajian di masjid Damaskus dan beberapa masjid lainnya di seputar kota Damaskus, yang diasuhnya hampir tiap hari. Majelis yang diampunya selalu dihadiri ribuan ja­ma’ah, laki-laki dan perempuan.
    Selain mengajar di berbagai hala­qah, ia juga aktif menulis di berbagai me­dia massa tentang tema-tema keislaman dan hukum yang pelik, di antaranya ber­bagai pertanyaan yang diajukan kepada­nya oleh para pembaca. Ia juga menga­suh acara-acara dialog keislaman di be­berapa stasiun televisi dan radio di Timur Tengah, seperti di Iqra‘ Channel dan Ar-Risalah Channel.
    Dalam hal pemikiran, Al-Buthi diang­gap sebagai tokoh ulama Ahlussunnah wal Jama’ah yang gencar membela kon­sep-konsep Madzhab yang Empat dan aqidah Asy’ariyah, Maturidiyah, Al-Gha­zali, dan lain-lain, dari rongrongan pemi­kiran dan pengkafiran sebahagian go­longan yang menganggap hanya mere­ka­lah yang benar dalam hal agama. Ber­bekal pengetahuannya yang amat men­dalam dan diakui berbagai pihak, ia me­re­dam berbagai permasalahan yang tim­bul dengan fatwa-fatwanya yang ber­ta­bur hujjah dari sumber yang sama yang dijadikan dalil para lawan debatnya. Ujar­an-ujaran Al-Buthi juga menyejuk­kan bagi yang benar-benar ingin mema­hami pemikirannya.
    Al-Buthi bukan hanya seorang yang pandai di bidang syari’ah dan bahasa, ia juga dikenal sebagai ulama Sunni yang multidisipliner. Ia dikenal alim da­lam ilmu filsafat dan aqidah, hafizh Qur’an, mengua­sai ulumul Qur’an dan ulu­mul hadits de­ngan cermat. Sewaktu-waktu ia melaku­kan kritik atas pemikiran filsafat materia­lisme Barat, di sisi lain ia juga melakukan pembelaan atas ajaran dan pemikiran madzhab fiqih dan aqidah Ahlussunnah Wal Jamaah, terutama terhadap tuding­an kelompok yang menisbahkan dirinya sebagai go­longan Mazhab Panggilan Hati.
    Dalam hal yang disebut terakhir, ia menulis dua karya yang meng-counter ber­bagai tudingan dan klaim-klaim me­reka, yakni kitab berjudul Al-Lamadz­habiyyah Akbar Bid’ah Tuhaddid asy-Syari’ah al-Islamiyyah dan kitab As-Salafiyyah Marhalah Zamaniyyah Muba­rakah wa Laysat Madzhab Islamiyy. Be­gitu pula hubungannya dengan gerakan-gerakan propaganda keislaman seperti Ikhwanul Muslimin Suriah yang tampak kurang baik, tentunya dengan berbagai perbedaan pandangan, yang menjadi­kan ketidaksetujuannya itu tampak da­lam sebuah karya yang berjudul Al-Jihad fi al-Islam, yang terbit pada tahun 1993.

    Tawassuth
    Di era 1990-an, Al-Buthi telah me­nam­pakkan intelektualitasnya dengan menggunakan sarana media informasi, seperti televisi dan radio. Ini demi meng­usung pemikiran-pemikirannya yang ta­wassuth (menengah) di tengah gerakan-gerakan fundamentalisme Islam yang bermunculan.
    Sayangnya, kedekatannya dengan penguasa politik Suriah saat itu, Hafizh Al-Asad, menjadi bumbu tak sedap di ka­langan pemerhati politik. Namun kede­kat­annya itu juga menjadi siasat politik Suriah dalam menyokong perjuangan Hamas (Harakah al-Muqawamah al-Islamiyah) dalam menghadapi aneksasi Israel, sekalipun beberapa pandangan­nya bertolak belakang dengan gerakan-gerakan semacam itu.
    Kini, di usia yang semakin senja, Syaikh Al-Buthi masih tetap menulis, baik lewat website yang diasuhnya mau­pun beberapa media massa dan elek­tronik lainnya. Betapa besar harapan umat ini, khususnya kalangan Ahlus­sun­nah wal Jama’ah, menanti karya-karya­nya yang lain terlahir, untuk memenuhi dahaga ilmu yang tak pernah habis-habisnya. Di mata beberapa ulama dan ustadz-ustadz yang pernah menimba ilmu di Suriah, saat ini Al Buthi lebih dikenal sebagai tokoh ulama sufi dibanding tokoh pergerakan. Buku-buku karya Al Buthi banyak beredar di Indonesia dan karyanya banyak menjadi rujukan. Salah satu bukunya berisi kritik terhadap gerakan kelompok Mazhab Panggilan Hati; Marhalah Zamaniyyah Mubarakah La Madzhab Islami.


    Read More