Tampilkan postingan dengan label maulid. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label maulid. Tampilkan semua postingan

Rabu, 20 Juli 2016

Unknown

INILAH IBNU TAYMIYYAH: ANTARA BID'AH HASANAH DAN MAULID NABI, PERSEMBAHAN BUAT PARA PENGAGUM AS SYAIKH IBN TAIMIYYAH

INILAH IBNU TAYMIYYAH: ANTARA BID'AH HASANAH DAN MAULID NABI, PERSEMBAHAN BUAT PARA PENGAGUM AS SYAIKH IBN TAIMIYYAH




Bismillah,
Berikut kami kutipkan beberapa pandangan/pendapat As Syaikh Ibn Taimiyah tentang beberapa perkara yang oleh para pengagum beliau dianggap sebagai Bid’ah Sesat atau Syirik.
Mereka para asatidza Salafi besar kemungkinan mengabaikan atau bahkan menyembunyikan banyak fatwa Ibn Taimiyah yang dirasa tidak sesuai dengan misi atau keinginan mereka.
Tulisan kami kali ini tidak dalam rangka membenarkan pendapat para ulama kami dengan berhujjah dengan pendapat As Syaikh Ibn Taimiyah, akan tetapi kami persembahkan beberapa pendapat Syaikh Ibnu Taimiyah khususnya yang menyangkut amalan-amalan yang dituduh sebagai bid’ah sesat guna membuka mata hati para pengikut SALAFI/TANPA MADZHAB agar menghentikan arogansinya dalam memerangi saudara seiman.
SYAIKH IBN TAIMIYAH DAN BID’AH HASANAH
Dalam salah satu fatwanya yang terhimpun dalam kitab “Majmu’ Al Fatawa” Syaikh Ibn Taimiyah berkata :
وَمِنْ هُنَا يُعْرَفُ ضَلَالُ مَنْ ابْتَدَعَ طَرِيقًا أَوْ اعْتِقَادًا زَعَمَ أَنَّ الْإِيمَانَ لَا يَتِمُّ إلَّا بِهِ مَعَ الْعِلْمِ بِأَنَّ الرَّسُولَ لَمْ يَذْكُرْهُ وَمَا خَالَفَ النُّصُوصَ فَهُوَ بِدْعَةٌ بِاتِّفَاقِ الْمُسْلِمِينَ وَمَا لَمْ يُعْلَمْ أَنَّهُ خَالَفَهَا فَقَدْ لَا يُسَمَّى بِدْعَةً قَالَ الشَّافِعِيُّ – رَحِمَهُ اللَّهُ – : الْبِدْعَةُ بِدْعَتَانِ : بِدْعَةٌ خَالَفَتْ كِتَابًا وَسُنَّةً وَإِجْمَاعًا وَأَثَرًا عَنْ بَعْضِ أَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَهَذِهِ بِدْعَةُ ضَلَالَةٍ . وَبِدْعَةٌ لَمْ تُخَالِفْ شَيْئًا مِنْ ذَلِكَ فَهَذِهِ قَدْ تَكُونُ حَسَنَةً لِقَوْلِ عُمَرَ : نِعْمَتْ الْبِدْعَةُ هَذِهِ هَذَا الْكَلَامُ أَوْ نَحْوُهُ رَوَاهُ البيهقي بِإِسْنَادِهِ الصَّحِيحِ فِي الْمَدْخَلِ
“Dari sini dapat diketahui kesesatan orang yang membuat-buat cara atau keyakinan baru, dan ia berasumsi bahwa keimanan tidak akan sempurna tanpa jalan atau keyakinan tersebut, padahal ia mengetahui bahwa Rosululloh –shollallohu ‘alaihi wasallam- tidak pernah menyebutnya. Pandangan yang menyalahi nash adalah Bid’ah berdasarkan kesepakatan kaum Muslimin. Sedang pandangan yang tidak diketahui menyalahinya terkadang tidak dinamakan Bid’ah. Imam As Syafi’iy –rohimahulloh- berkata : “Bid’ah itu ada dua : Pertama ; Bid’ah yang menyalahi al qur’an, sunnah, Ijma’ dan atsar sebagian sahabat Rosululloh –shollallohu ‘alaihi wasallam- maka ini disebut Bid’ah Dholalah. Kedua ; Bid’ah yang tidak menyalahi hal tersebut, maka Bid’ah ini terkadang disebut Bid’ah Hasanah berdasar pernyataan Umar “Sebaik-baik Bid’ah adalah ini (tarowih)”. Pernyataan Imam As Syafi’iy ini diriwayatkan oleh al Baihaqi dalam kitab Al Madkhol dengan sanad yang shohih. (Majmu’ Fatawa, vol. 20, hlm. 163)
Coba anda perhatikan tulisan yang kami cetak tebal diatas dengan hati dan pikiran yang bebas…., betapa beliau menamai “Bid’ah” bukan atas setiap perkara baru, melainkan pada perkara yang menyalahi Nash.Sedang perkara yang tidak menyalahi Nash tidak disebut “Bid’ah”. Lebih jauh sikap beliau yang menghormati dan menghargai pendapat Imam As Syafi’iy yang membagi Bid’ah menjadi Bid’ah Dholalah dan Bid’ah Hasanah.
SYAIKH IBN TAIMIYAH DAN TAHLILAN, YASINAN, (DZIKIR BERJAMA’AH)
وَسُئِلَ : عَنْ رَجُلٍ يُنْكِرُ عَلَى أَهْلِ الذِّكْرِ يَقُولُ لَهُمْ : هَذَا الذِّكْرُ بِدْعَةٌ وَجَهْرُكُمْ فِي الذِّكْرِ بِدْعَةٌ وَهُمْ يَفْتَتِحُونَ بِالْقُرْآنِ وَيَخْتَتِمُونَ ثُمَّ يَدْعُونَ لِلْمُسْلِمِينَ الْأَحْيَاءِ وَالْأَمْوَاتِ وَيَجْمَعُونَ التَّسْبِيحَ وَالتَّحْمِيدَ وَالتَّهْلِيلَ وَالتَّكْبِيرَ وَالْحَوْقَلَةَ وَيُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالْمُنْكِرُ يُعْمِلُ السَّمَاعَ مَرَّاتٍ بِالتَّصْفِيقِ وَيُبْطِلُ الذِّكْرَ فِي وَقْتِ عَمَلِ السَّمَاعِ ”
Syaikh Ibnu Taimiyah ditanya tentang seseorang yang mengingkari ahli dzikir (berjama’ah) dengan berkata pada mereka : “Dzikir kalian ini bid’ah, mengeraskan suara yang kalian lakukan juga bid’ah.” Jama’ah tersebut memulai dan menutup dzikirnya dengan al qur’an, lalu mendo’akan kaum muslimin yang masih hidup dan yang sudah meninggal. Mereka merangkai bacaan Tasbih, Tahmid, Tahlil, Takbir, Hauqolah (Laa Haula Wa Laa Quwwata Illa Billah) dan sholawat kepada Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam ?
فَأَجَابَ : الِاجْتِمَاعُ لِذِكْرِ اللهِ وَاسْتِمَاعِ كِتَابِهِ وَالدُّعَاءِ عَمَلٌ صَالِحٌ وَهُوَ مِنْ أَفْضَلِ الْقُرُبَاتِ وَالْعِبَادَاتِ فِي الْأَوْقَاتِ فَفِي الصَّحِيحِ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ : { إنَّ لِلَّهِ مَلَائِكَةً سَيَّاحِينَ فِي الْأَرْضِ فَإِذَا مَرُّوا بِقَوْمِ يَذْكُرُونَ اللهَ تَنَادَوْا هَلُمُّوا إلَى حَاجَتِكُمْ } وَذَكَرَ الْحَدِيثَ وَفِيهِ { وَجَدْنَاهُمْ يُسَبِّحُونَك وَيَحْمَدُونَك } لَكِنْ يَنْبَغِي أَنْ يَكُونَ هَذَا أَحْيَانًا فِي بَعْضِ الْأَوْقَاتِ وَالْأَمْكِنَةِ فَلَا يُجْعَلُ سُنَّةً رَاتِبَةً يُحَافَظُ عَلَيْهَا إلَّا مَا سَنَّ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمُدَاوَمَةَ عَلَيْهِ فِي الْجَمَاعَاتِ ؟ مِنْ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ فِي الْجَمَاعَاتِ وَمِنْ الْجُمُعَاتِ وَالْأَعْيَادِ وَنَحْوِ ذَلِكَ . وَأَمَّا مُحَافَظَةُ الْإِنْسَانِ عَلَى أَوْرَادٍ لَهُ مِنْ الصَّلَاةِ أَوْ الْقِرَاءَةِ أَوْ الذِّكْرِ أَوْ الدُّعَاءِ طَرَفَيْ النَّهَارِ وَزُلَفًا مِنْ اللَّيْلِ وَغَيْر ذَلِكَ : فَهَذَا سُنَّةُ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِ اللهِ قَدِيمًا وَحَدِيثًا
Syaikh Ibnu Taimiyah menjawab :”Berkumpul untuk berdzikir, mendengarkan al qur’an dan berdo’a adalah amal sholih dan termasuk qurbah dan ibadah yang paling utama di setiap waktu. Dalam shohih (Al Bukhori) bahwasannya Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda : “Sesungguhnya Alloh memiliki banyak malaikat yang selalu bepergian di muka bumi. Apabila mereka bertemu dengan sekumpulan orang yang berdzikir kepada Alloh, maka mereka memanggil : “Silahkan sampaikan hajat kalian”, Ibnu Taimiyah menuturkan hadits tersebut (secara utuh), dan didalamnya terdapat redaksi; “Kami menemukan mereka bertasbih dan bertahmid kepada-Mu”. Akan tetapi hendaknya hal ini dilakukan dalam sebagian waktu dan keadaan, dan tidak menjadikannya sebagai sunnah yang dipelihara yang mengiringi sholat, kecuali perkara yang telah di contohkan Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam untuk di lakukan secara istiqomah berupa sholat lima waktu, jum’at, dan perayaan-perayaan (‘id) juga yang semisal. Adapun memelihara rutinitas wirid-wirid yang ada padanya, berupa sholawat, bacaan al qur’an, dzikir, atau do’a setiap pagi dan sore serta pada sebagian waktu malam dan lain-lain, hal ini merupakan sunnah Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam dan hamba-hamba Alloh yang sholih zaman dahulu dan sekarang. (Majmu’ Fataawaa, vol. 22, hal. 520)
SYAIKH IBN TAIMIYAH DAN SAMPAINYA PAHALA KEBAIKAN UNTUK ORANG YANG SUDAH MENINGGAL
وَسُئِلَ – رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى – عَنْ قَوْلِهِ تَعَالَى { وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إلَّا مَا سَعَى } وَقَوْلِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ { إذَا مَاتَ ابْنُ آدَمَ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إلَّا مِنْ ثَلَاثٍ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ } فَهَلْ يَقْتَضِي ذَلِكَ إذَا مَاتَ لَا يَصِلُ إلَيْهِ شَيْءٌ مِنْ أَفْعَالِ الْبِرِّ؟
Syaikh Ibnu Taimiyyah -rahimahullohu ta’aala- ditanya tentang Firman Alloh Swt, “Dan tidaklah bagi seseorang kecuali apa yang telah dia kerjakan”. (QS. An-Najm: 39) dan hadits “Ketika anak Adam mati, putuslah segala amal perbuatannya kecuali tiga perkara; shadaqoh jariyah, ilmu yang dimanfa’atkan, dan anak yang sholeh yang mendo’akan dia.” adakah kedua nash tersebut menunjukkan “jika seseorang telah meninggal maka tak sesuatupun sampai padanya dari perbuatan baik?”
فَأَجَابَ : الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ ، لَيْسَ فِي الْآيَةِ وَلَا فِي الْحَدِيثِ أَنَّ الْمَيِّتَ لَا يَنْتَفِعُ بِدُعَاءِ الْخَلْقِ لَهُ وَبِمَا يُعْمَلُ عَنْهُ مِنْ الْبِرِّ بَلْ أَئِمَّةُ الْإِسْلَامِ مُتَّفِقُونَ عَلَى انْتِفَاعِ الْمَيِّتِ بِذَلِكَ وَهَذَا مِمَّا يُعْلَمُ بِالِاضْطِرَارِ مِنْ دِينِ الْإِسْلَامِ وَقَدْ دَلَّ عَلَيْهِ الْكِتَابُ وَالسُّنَّةُ وَالْإِجْمَاعُ فَمَنْ خَالَفَ ذَلِكَ كَانَ مِنْ أَهْلِ الْبِدَعِ
Maka Syaikh Ibnu Taimiyah menjawab : “Alhamdulillahi Robbil ‘Alamiin, Tidak ada ayat dan juga hadits (yang menyatakan) bahwa mayyit tidak beroleh kemanfaatan dari do’a makhluk dan juga dari amal kebaikan untuknya, bahkan para Imam umat Islam sepakat berolehnya manfaat bagi mayyit dengan itu semua, dan masalah ini adalah termasuk perkara yang diketahui dari islam secara pasti, dan sungguh al qur’an, as sunnah dan ijma’ telah menunjukkan itu semua. Maka barangsiapa menyelisihinya maka dia termasuk ahli bid’ah.” (Al Fatawwa Al Kubro, vol. 3 hal. 27)
SYAIKH IBN TAIMIYAH DAN TALQIN MAYIT
سُئِلَ: مُفْتِي الْأَنَامِ، بَقِيَّةُ السَّلَفِ الْكِرَامِ، تَقِيُّ الدِّينِ بَقِيَّةُ الْمُجْتَهِدِينَ، أَثَابَهُ اللَّهُ، وَأَحْسَنَ إلَيْهِ. عَنْ تَلْقِينِ الْمَيِّتِ فِي قَبْرِهِ بَعْدَ الْفَرَاغِ مِنْ دَفْنِهِ، هَلْ صَحَّ فِيهِ حَدِيثٌ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. أَوْ عَنْ صَحَابَتِهِ؟ وَهَلْ إذَا لَمْ يَكُنْ فِيهِ شَيْءٌ يَجُوزُ فِعْلُهُ؟ أَمْ لَا؟
Syaikh Ibnu Taimiyyah -rahimahullohu ta’aala- ditanya tentang Talqin Mayit dalam kuburnya setelah rampung proses pemakamannya. “Adakah hadits shohih dari Rosululloh –shollallohu ‘alaihi wasallam- atau dari sahabatnya tentang hal tersebut ? dan jika tidak ada satu dalilpun dalam hal tersebut adakah ia boleh dilakukan atau tidak ?
أَجَابَ: هَذَا التَّلْقِينُ الْمَذْكُورُ قَدْ نُقِلَ عَنْ طَائِفَةٍ مِنْ الصَّحَابَةِ: أَنَّهُمْ أَمَرُوا بِهِ، كَأَبِي أُمَامَةَ الْبَاهِلِيِّ، وَغَيْرِهِ، وَرُوِيَ فِيهِ حَدِيثٌ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَكِنَّهُ مِمَّا لَا يُحْكَمُ بِصِحَّتِهِ ؛ وَلَمْ يَكُنْ كَثِيرٌ مِنْ الصَّحَابَةِ يَفْعَلُ ذَلِكَ، فَلِهَذَا قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ وَغَيْرُهُ مِنْ الْعُلَمَاءِ: إنَّ هَذَا التَّلْقِينَ لَا بَأْسَ بِهِ، فَرَخَّصُوا فِيهِ، وَلَمْ يَأْمُرُوا بِهِ. وَاسْتَحَبَّهُ طَائِفَةٌ مِنْ أَصْحَابِ الشَّافِعِيِّ، وَأَحْمَدَ، وَكَرِهَهُ طَائِفَةٌ مِنْ الْعُلَمَاءِ مِنْ أَصْحَابِ مَالِكٍ، وَغَيْرِهِمْ.
Maka beliau menjawab : Adapun talqin tersebut sungguh telah diriwayatkan dari sekelompok para sahabat seperti Abi Umamah Al Bahiliy dan yang lain, sesungguhnya mereka memerintahkan hal tersebut, dan di dalamnya disebutkan hadits Nabi saw, akan tetapi hadits tersebut tidak dapat dihukumi sohih, dan tidak banyak para sahabat yang melakukannya. Oleh karenanya Imam Ahmad dan para ulama yang lain berkata :“Sesungguhnya talqin tersebut tidak apa-apa”, dan mereka memberi kelonggaran dalam masalah ini dan tidak memerintahkannya. Sebagian golongan dari para Ulama kalangan Syafi’iyyah dan Hanbaliyah mensunnahkannya, sedangkan sebagian golongan dari kalangan para ulama Malikiyyah dan yang lain memakruhkannya. (Fatawa Al Kubro. vol 3, hal. 24)
SYAIKH IBN TAIMIYAH DAN ZIYARAH KUBUR
أَجَابَ: الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ. أَمَّا زِيَارَةُ الْقُبُورِ فَقَدْ ثَبَتَ فِي الصَّحِيحِ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ كَانَ قَدْ نَهَى عَنْهَا نَهْيًا عَامًّا، ثُمَّ أَذِنَ فِي ذَلِكَ. فَقَالَ: {كُنْت نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُورِ فَزُورُوهَا. فَإِنَّهَا تُذَكِّرُكُمْ الْآخِرَةَ} وَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: {اسْتَأْذَنْتُ رَبِّي فِي أَنْ أَزُورَ قَبْرَ أُمِّي، فَأَذِنَ لِي، وَاسْتَأْذَنْتُ فِي أَنْ أَسْتَغْفِرَ لَهَا، فَلَمْ يَأْذَنْ لِي، فَزُورُوا الْقُبُورَ، فَإِنَّهَا تُذَكِّرُكُمْ الْآخِرَةَ}.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah ketika ditanya tentang ziyarah kubur beliau menjawab : Alhamdulillahi Robbil ‘Alamiin. Adapun ziyarah kubur, sungguh terdapat dalam sohih dari Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam, bahwasannya beliau pernah melarang ziyarah kubur dengan larangan yang bersifat umum, kemudian beliau mengizinkan ziyarah kubur. Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda : “Aku telah (pernah) melarang kalian berziyaroh kubur, maka (sekarang aku perintahkan) berziyarohlah kalian kekuburan, sesungguhnya ziyarah kubur dapat mengingatkan akhirat.” Dan Nabi saw bersabda : “Aku memohon izin kepada tuhanku untuk diperkenankan menziyarahi makam ibuku dan Alloh mengizinkanku, dan aku memohon izin agar aku diperkenankan memohonkan ampun untuk ibuku dan Alloh tidak mengizinkanku, maka berziyarahlah kalian, sesungguhnya ziyarah kubur dapat mengingatkan kalian akan akhirat.” (Al Fataawa Al kubro, Vol 3 hal, 43)
SYAIKH IBN TAIMIYAH DAN KEISTIMEWAAN KUBURAN ORANG-ORANG SHOLIH
وَكَذَلِكَ مَا يُذْكَرُ مِنَ الْكَرَامَاتِ وَخَوَارِقِ الْعَادَاتِ الَّتِي تُوْجَدُ عِنْدَ قُبُوْرِ الْأَنْبِيَاءِ وَالصَّالِحِيْنَ مِثْلُ نُزُوْلِ الْأَنْوَارِ وَالْمَلآئِكَةِ عِنْدَهَا وَتَوَقِّي الشَّيَاطِيْنِ وَالْبَهَائِمِ لَهَا وَانْدِفَاعِ النَّارِ عَنْهَا وَعَمَّنْ جَاوَرَهَا وَشَفَاعَةِ بَعْضِهِمْ فِي جِيْرَانِهِ مِنَ الْمَوْتَى وَاسْتِحْبَابِ الْإِنْدِفَانِ عِنْدَ بَعْضِهِمْ وَحُصُوْلِ الْأُنْسِ وَالسَّكِيْنَةِ عِنْدَهَا وَنُزُوْلِ الْعَذَابِ بِمَنْ اِسْتَهَانَ بِهَا فَجِنْسُ هَذَا حَقٌّ لَيْسَ مِمَّا نَحْنُ فِيْهِ ، وَمَا فِي قُبُوْرِ الْأَنْبِيَاءِ وَالصَّالِحِيْنَ مِنْ كَرَامَةِ اللهِ وَرَحْمَتِهِ ، وَمَا لَهَا عِنْدَ اللهِ مِنَ الْحُرْمَةِ وَالْكَرَامَةِ فَوْقَ مَا يَتَوَهَّمُهَ أَكْثَرُ الْخَلْقِ ، لَكِنْ لَيْسَ هَذَا مَوْضِعَ تَفْصِيْلِ ذَلِكَ
“Demikian pula kejadian yang disebutkan, tentang karomah dan hal-hal yang di luar kebiasaan yang terjadi di kuburan para nabi dan orang-orang sholih seperti turunnya cahaya dan malaikat di kuburan tersebut, setan dan binatang menjauhi tempat itu, api terhalang untuk membakar kuburan dan orang yang berada di dekatnya, sebagian dari para nabi dan orang-orang sholih memberi syafaat kepada orang-orang mati yang menjadi tetangga mereka, kesunnahan mengubur jenazah di dekat kuburan mereka, memperoleh kedamaian dan ketenteraman saat berada di dekatnya, dan turunnya adzab atas orang yang menghina kuburan tersebut, maka hal-hal ini adalah benar adanya dan tidak termasuk dalam topik bahasan kami tentang diharamkannya menjadikan kuburan sebagai masjid. Apa yang terjadi pada kuburan para nabi dan orang-orang sholih dari kemuliaan dan rahmat Alloh dan apa yang diperoleh di sisi Alloh dari kehormatan dan kemuliaan itu berada di atas anggapan banyak orang. (Iqtidho’us Shirothil Mustaqim, 374)
SYAIKH IBN TAIMIYAH DAN KAROMAH PARA WALI
فَبَرَكَاتُ أَوْلِيَاءِ اللهِ الصَّالِحِينَ بِاعْتِبَارِ نَفْعِهِمْ لِلْخَلْقِ بِدُعَائِهِمْ إلَى طَاعَةِ اللهِ وَبِدُعَائِهِمْ لِلْخَلْقِ وَبِمَا يُنْزِلُ اللهُ مِنْ الرَّحْمَةِ وَيَدْفَعُ مِنْ الْعَذَابِ بِسَبَبِهِمْ حَقٌّ مَوْجُودٌ فَمَنْ أَرَادَ بِالْبَرَكَةِ هَذَا وَكَانَ صَادِقًا فَقَوْلُهُ حَقٌّ. وَأَمَّا ” الْمَعْنَى الْبَاطِلُ ” فَمِثْلُ أَنْ يُرِيدَ الْإِشْرَاكَ بِالْخَلْقِ : مِثْلُ أَنْ يَكُونَ رَجُلٌ مَقْبُورٌ بِمَكَانِ فَيَظُنُّ أَنَّ اللهَ يَتَوَلَّاهُمْ لِأَجْلِهِ وَإِنْ لَمْ يَقُومُوا بِطَاعَةِ اللهِ وَرَسُولِهِ فَهَذَا جَهْلٌ
Keberkahan para Wali Alloh yang sholih dari aspek manfaat yang diberikan mereka dengan ajakan mereka untuk taat kepada Alloh, mendoakan makhluk dan diturunkannnya rahmat oleh Alloh serta ditolaknya adzab berkat eksistensi mereka adalah fakta yang konkrit. Barangsiapa yang menghendaki keberkahan dalam konteks demikian dan ia jujur maka ucapannya benar. Adapun pengertian yang salah itu semisal jika yang mengungkapkannya bermaksud menyekutukan Alloh dengan makhluk, seperti seseorang yang mengira bahwa mereka dikasihi oleh Alloh hanya berkat (orang sholih) yang dimakamkan ditempat tersebut, sedang mereka tidak menunaikan ketaatan kepada Alloh dan Rosul-Nya, maka hal ini adalah tindakan bodoh. (Majmu’ul Fatawa, 11/114)
SYAIKH IBN TAIMIYAH DAN MADZHAB AL ASY’ARIY (AL-ASYA’IROH)
وَالْعُلَمَاءُ أَنْصَارُ فُرُوعِ الدِّينِ وَالْأَشْعَرِيَّةُ أَنْصَارُ أُصُولِ الدِّينِ .
“Para Ulama adalah pembela ilmu-ilmu agama ,sedang Al Asy’ariyyah adalah pembela dasar-dasar agama (Ushulud Diin) “ (Majmu’ Al Fataawa Ibnu Taimiyah, vol. 4, hlm. 16)
SYAIKH IBN TAIMIYAH DAN MAULID NABI
فَتَعْظِيْمُ الْمَوْلِدِ وَاتِّخَاذُهُ مُوْسِمًا قَدْ يَفْعَلُهُ بَعْضُ النَّاسِ وَيَكُوْنُ لَهُ فِيْهِ أَجْرٌ عَظِيْمٌ لِحُسْنِ قَصْدِهِ وَتَعْظِيْمِهِ لِرَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ كَمَا قَدَّمْتُهُ لَكَ
Jadi, mengagungkan maulid dan menjadikannya sebagai tradisi yang tidak jarang dilakukan oleh sebagian orang, dan ia memperoleh pahala yang sangat besar karena tujuannya yang baik serta sikapnya yang mengagungkan Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam sebagaimana telah aku jelaskan sebelumnya padamu. (Iqtidho’us Shirootil Mustaqiim, hal. 297).
Tulisan kami diatas semoga dapat menjadi titik awal pembuka kesadaran bagi Saudaraku yang tidak sefaham, bahwa amaliyah yang anda permasalahkan adalah berada dalam wilayah “Khilafiyah Ijtihadiyah”yang tidak ada untungnya bagi Islam dan Kaum Muslimin untuk mempertajam perbedaan dalam masalah-masalah tersebut.
Jika anda memang saudara yang baru tumbuh semangat ke-islam-annya, kami sarankan belajarlah dengan hati dan fikiran yang bebas dan merdeka serta bersikaplah kritis terhadap ustadz anda sebagaimana anda begitu kritis terhadap pendapat para Ulama kami.

Dan tentunya masih banyak fatwa-fatwa Syaikh Ibn Taimiyah yang sejatinya dapat menjadi titik awal menyadarkan saudaraku SALAFI/TANPA MADZHAB untuk tidak mempertajam khilafiyah yang sejatinya hanya akan merugikan Ummat Islam. Problemnya adalah : Apakah mereka mau membuka hati dan fikiran mereka untuk menerima pandangan/pendapat Ulama’ yang mereka kagumi ?… Wallohu A’lam…
Sumber:  AbuHilya


Read More

Rabu, 17 Februari 2016

Unknown

Hukum Perayaan dan Dalil Maulid Nabi Muhammad SAW

Hukum Perayaan dan Dalil Maulid Nabi Muhammad SAW

Tulisan ini kami buat karena seringkali kami melihat diskusi atau juga terlibat diskusi baik di internet pula di dunia nyata tentang isu tahunan namun tidak pernah usang yakni Apakah Maulid Nabi Bid’ah. Mereka yang kontra dengan Maulid, dan yang pernah kami temui untuk berdiskusi dan juga mereka yang biasa disebut dengan golongan Kaum tanpa Madzhab.
Jadi kami berinisiatif untuk mempostingnya disini, siapapun yang mungkin membutuhkan. Ambil yang baik, buang yang jelek. Koreksi jika kami salah. Yang benar dari Allah SWT, yang keliru itu dari kekhilafan kami. Allahu a’llam Bissawab.
Muhammad Rosulullah SAW

Apakah Maulid Nabi Bid’ah dalam beragama?

Bukan! Kenapa? Karena Maulid bukan aktivitas beragama dan ibadah, tidak pernah disyareatkan oleh mereka yang merayakannya. Namun Maulid merupakan peringatan dan perayaan kelahiran nabi SAW. Apakah pantas sesuatu yang bukan bagian dari ibadah, di hukumi dengan dalil agama?
Bid’ah dalam beribadah, sudah jelas contohnya menambah rakaat shalat dari yang sudah ditetapkan secara syar’i, misalnya shalat Maghrib ditambah jadi 4 rakaat dengan alasan makin banyak makin baik. Dan menyembelih kurban sebelum shalat Ied Adha dstnya. Sedangkan Maulid, bukanlah ibadah. Sekali lagi kami jelaskan bawah Maulid adalah peringatan atas kelahiran orang yang Allah beri titel sebagai Rahmat bagi sekalian alam.
Nabi SAW, sendiri memperingati hari lahirnya dengan berpuasa. Dan generasi pengikutnya hingga kini peringati dengan merayakan Maulid.

Renungan, kenapa umat Islam dewasa ini peringati Maulid Nabi SAW?



Ulama masa kini manfaatkan momen Maulid, untuk menyegarkan kembali memori kita terhadap manusia yang amat suci disisi RobNya yakni Nabi Muhammad SAW, para ulama memberitakan kembali pribadi, perjuangan dan ahlak beliau kepada umat Islam agar tumbuh kekaguman disanubari berharap mencontoh pribadi seagungnya manusia bukan mencontoh tokoh-tokoh kafir. Jika melihat pada poin ini, tentu peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW merupakan hal yang amat baik. Insya Allah mendapat ridho-Nya. Terlebih lagi tiada larangan memperingati kelahiran beliau dengan maksud yang ma’ruf yakni agar umat lebih mengenalnya.
Perlu diketahui bahwa dalam Islam kita disuruh untuk melaksanakan semampunya yang diperintahkan, dan menjauhi yang dilarangnya. BUKAN MENJAUHI YANG TIDAK DIKERJAKAN / DILARANG. Seperti dalam hadis berikut ini;
عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ: مَا نَهَيْتُكُمْ عَنْهُ فَاجْتَنِبُوْهُ، وَمَا أَمَرْتُكُمْ بِهِ فَأْتُوْا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ، فَإِنَّمَا أَهْلَكَ الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ كَثْرَةُ مَسَائِلِهِمْ وَاخْتِلاَفُهُمْ عَلَى أَنْبِيَائِهِمْ.
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu , dia berkata: “Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ’Apa saja yang aku larang terhadap kalian, maka jauhilah. Dan apa saja yang aku perintahkan kepada kalian, maka kerjakanlah semampu kalianSesungguhnya apa yang membinasakan umat sebelum kalian hanyalah karena mereka banyak bertanya dan menyelisihi Nabi-nabi mereka’.” [Diriwayatkan oleh al-Bukhâri dan Muslim].
Jika semua aktivitas yang tidak dikerjakan atau tidak ada larangannya maka menjadi bid’ah dholallah (sesat) niscaya akan banyak kesesatan yang dilakukan umat ini. Contohnya adalah sebagai berikut;
Poin 1. Penyatuan Mushaf menjadi Mushaf Usmani sebagai inisiatif khalifah Usman ibn Affan RA karena saat itu terjadi 7 dialek berbeda, alhasil beliau (RA) putuskan untuk menetapkan dialek Quraisy sebagai satu-satunya.
Pertanyaan untuk poin 1. Apakah nabi tidak tahu jika kelak akan terjadi perselisihan karena masalah perbedaan logak / dialek sepeninggalnya, sehingga Usman bin Affan RA berinisiatif membakar logat yang lahir dan meninggalkan logat Quraisy saja?
Poin 2. Penambahan Harakah / tanda baca, tercetus saat dinasti Umayah karena kekhawatiran terjadinya perubahan arti atau pengertian. Oleh karenanya berinisiatif untuk mencantumkan tanda bantu baca yang dituliskan dengan tinta yang berbeda warnanya dengan tulisan Al Qur’an.
Pertanyaan untuk poin 2. Pernahkah Nabi memerintahkan untuk menambahkan harakah / sakl / tanda baca pada ayat-ayat Quran? Jika tiada, apakah nabi dan para sahabat bodoh (meminjam istilah salah satu komentator artikel ini)?
Poin 3. Konsep Uluhiyah, Rububiyah, Asma Wa Sifat yang di gunakan Kaum Tanpa Madzhab berdalih untuk permudah ajari umat mengenai Tauhid.
Pertanyaan untuk pon 3. Namun jika kita mau kritis seperti mereka, pernahkah Nabi dan Sahabatnya membelah Tauhid jadi 3 ini demi permudah ajari umat? Jika pernah ada, silahkan tuliskan hadisnya. Jika tidak ada hadisnya maka amat tepat jika pembagian Tauhid ini sebagai bid’ah ala Kaum Tanpa Madzhab

Aktivitas dalam peringatan Maulid

Dan peringatan Maulid dengan tujuan yang baik, kemudian di isi dengan segala perkara aktivitas sunnah maka bukan hal yang dilarang. Baca yang dibawah ini untuk ketahui aktivitas dalam peringatan Maulid.
Untuk memahami lebih lanjut dari Maulid, maka dengan memaparkan deretan aktivitas didalamnya.
1.    Membaca sejarah, pujian tentang Nabi yang tersusun dengan apik dalam kitab      Simtudurorr yang disusun oleh Alhabib Ali Alhabsyi atau bacaan lainnya.
2.    Membaca doa.
3.    Adanya tausyiah.
4.    Memberi makan orang banyak.
5.    Dan berkumpulnya banyak kaum Muslim dalam satu tempat.
Apakah aktivitas-aktivitas diatas dilarang dalam Islam? Tentu tidak. Dari ke 5 aktivitas diatas, yang paling sering di jadikan isu panas hanya poin satu yakni Membaca Pujian kepada Nabi SAW, dan disini kami hanya membahas point itu. Sedangkan untuk point 2 hingga 5 tidak ada yang perlu dimasalahkan.

1. Membaca dan mendengarkan pujian kepada Nabi SAW

Apakah memuji Nabi SAW dilarang dalam Islam? Sama sekali tidak. Namun sering kali mereka yang kontra dengan urusan ini membawa hadis yang berbunyi kira-kira begini: Janganlah kalian memujiku berlebihan seperti nasrani memuji Isa bin Maryam.
Berpegang dengan hadis itu mereka menyatakan pujian2 kepada Nabi tidak dibenarkan. Benarkah? Hadis tersebut bukanlah LARANGAN dari Nabi SAW bagi siapapun yang ingin memujinya. Namun memberi batasan, dan batasan itu sudah tertulis jelas di matan hadis tersebut yakni “seperti kaum Nashrani yang berlebihan dalam memuji putra Maryam.”
Tentu kita faham maksud Nabi SAW dalam batasan itu, bahwa jangan seperti umat Nasrani yang menuhankan Isa. Dan bukan melarang siapapun memuja Nabi SAW.
Perlu anda ketahui bahwa, bukan saja kita sebagai mahluk yang memuji nabi SAW, Allah SWT sendiri memujinya dengan memberi label “Agung” kepada Nabi SAW.
“Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.[QS Al Qalam 68:4]“
Kata-kata “agung” dari Allah yang Maha Agung, memiliki makna yang besar dan tak bisa dijangkau batasnya dengan pikiran kita. Artinya kita bebas untuk menisbatkan sifat-sifat kesempurnaan makhluk bagi beliau Saw tanpa batas (kecuali menjadikan beliau (SAW) sebagai tuhan) karena setinggi apapun pujian kita, tak akan mampu menandingi pujian Allah kepada Rasulullah Saw.
Bahkan di surat lain Allah SWT melabelkan kepada Nabi SAW sifat-sifat-Nya yakni Rauuf dan Rahiim (pengasih dan penyayang). Hal ini dapat di temui pada surat SURAT At Taubah (9): 128. Yang berbunyi:
[quote_center]“Laqad jaa-akum rasuulun min anfusikum ‘aziizun ‘alayhi maa ‘anittum hariishun ‘alaykum bialmu/miniina rauufun rahiimun.”[/quote_center]
Artinya:
“Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.”
Lihat bagaimana Allah Swt menyematkan dua asma-Nya untuk Rasulullah Saw yaitu Rauuf dan Rahiim (pengasih dan penyayang). Bukan berarti sifat kasih dan kaming Nabi Saw itu sama dengan sifat kasih dan kaming Allah Swt. Namun sifat kasih dan kaming dalam batas kemanusiawiaan tidak sampai batas ketuhanan.
Para sahabat dan ulama salaf, memahami hal ini dengan baik sehingga tidak sedikit para sahabat yang memuji-muji Nabi Saw dengan pujian indah dan tinggi. Di antaranya adalah pujian yang disampaikan sahabat Hassan bin Tsabit’
واحسن منك لم تر ثط عيني # واجمل منك لم تلد النساء
خلقت مبرأ من كل عيب # كأنك قد خلقت كما تشاء
Yang lebih baik darimu, belum pernah mataku memandangnya
Yang lebih indah darimu, belum pernah pernah dilahirkan oleh para wanita
Engkau diciptakan terbebas dari segala kekurangan
Seolah engkau tercipta dengan sekehendakmu sendiri[/quote_center]
Sahabat Sariyah pun pernah memuji Rasul Saw :
فما حملت من ناقة فوق ظهرها … أبر وأوفى ذمة من محمد
“ Tidak ada seeokor unta pun yang membawa seseorang di atas punggungnya, yang lebih baik dan menepati janjinya daripada Muhammad“
Dan juga pujian Abbas bin Abdul Muthalib RA:
“…dan engkau saat hari kelahiranmu maka terbitlah cahaya dibumi hingga terang benderang, dan langit bercahaya dengan cahayamu, dan kami kini dalam naungan cahaya itu dan dalam tuntunan kemuliaan (Al Qur’an) kami terus mendalaminya”
Dan masih banyak lagi pujian para sahabat kepada Nabi Saw sehingga membuat Nabi senang dan terkadang Nabi pun memberikan hadiah pada yang memujinya. Ini semua membuktikan mengenai bolehnya memuji beliau Saw dengan pujian setinggi-tingginya.
Dan disaat seorang Badui bertanya tentang ahlak sang Nabi SAW, isterinya Siti Aisyah RA menyebutnya: khuluquhu al-Qur’an
(Akhlaknya Muhammad itu Al-Qur’an).
Nama beliau sendiri yaitu Muhammad, merupakan bentuk isim maf’ul dari kata Hammada Yuhammidu Tahmiidan, yang secara bahasa artinya adalah yang banyak dipuji. Ini merupakan isyarat bahwa memang beliau pantas untuk selalu dipuji. Jadi memuji dan menyanjung Nabi SAW adalah BOLEH.

Lalu kenapa Nabi SAW tidak merayakan Maulid?

Ini pertanyaan selanjutnya. Mungkinkan Nabi SAW meminta umatnya “hai sekalian umatku rayain ultah kami yah!”. Mungkinkah? Tentu tidak, karena merayakan maulid bukan hal esensi saat itu. Tenaga dan waktu Nabi SAW saat itu dihabiskan untuk dakwah menyiarkan Islam. Tentu perayaan Maulid tidak dianggap masalah krusial, apalagi di tetapkan dalam sebuah ayat dan hadis. Namun Nabi SAW, tidak pernah melarang dirinya dipuji, kemudian tidak pula melarang berkumpulnya orang banyak untuk dengarkan tausyiah, memberi makan orang banyak dan membaca doa.
Jika nabi SAW menyerukannya maka akan dijadikan wajib hukumnya, dan dijadikan hari raya.

Lalu kenapa para sahabat Nabi SAW tidak merayakan Maulid?

Pertanyaan dan gugatan selanjutnya dari mereka yang kontra dengan Maulid ialah, kenapa para sahabat tidak merayakannya padahal kualitas cinta mereka pada nabi tentunya jauh diatas kualitas cinta kita.
Untuk menjawabnya mudah saja, para sahabat saat itu hidup dan melihat nabi SAW setiap hari. Mereka tidak perlu merayakan Maulid setiap tahunnya. Mereka cukup mengabdi dan memujinya. Dan berjihad bersama SAW. Dan juga tradisi merayakan hari ultah asing pada zaman itu. Sesuatu yang asing bukan berarti dilarang. Dan memang saat itu perhatian Nabi berserta sahabat-sahabatnya lebih kepada menyiarkan Islam.

Pendapat ulamat tentang Maulid

Ibnu Hajar Al ‘Asqolani Membolehkan Maulid Nabi
Perkataan berikut kami nukil dari kitab Al Hawiy yang ditulis oleh Imam As Suyuthi.[6]
وقد سئل شيخ الإسلام حافظ العصر أبو الفضل بن حجر عن عمل المولد فأجاب بما نصه: أصل عمل المولد بدعة لم تنقل عن أحد من السلف الصالح من القرون الثلاثة ولكنها مع ذلك قد اشتملت على محاسن وضدها فمن تحرى في عملها المحاسن وتجنب ضدها كان بدعة حسنة وإلا فلا قال وقد ظهر لي تخريجها على أصل ثابت وهو ما ثبت في الصحيحين من أن النبي صلى الله عليه وسلم قدم المدينة فوجد اليهود يصومون يوم عاشوراء فسألهم فقالوا هو يوم أغرق الله فيه فرعون ونجى موسى فنحن نصومه شكرا لله تعالى فيستفاد منه فعل الشكر لله على ما من به في يوم معين من إسداء نعمة أو دفع نقمة ويعاد ذلك في نظير ذلك اليوم من كل سنة والشكر لله يحصل بأنواع العبادة كالسجود والصيام والصدقة والتلاوة وأي نعمة أعظم من النعمة ببروز هذا النبي نبي الرحمة في ذلك اليوم وعلى هذا فينبغي أن يتحرى اليوم بعينه حتى يطابق قصة موسى في يوم عاشوراء ومن لم يلاحظ ذلك لا يبالي بعمل المولد في أي يوم من الشهر بل توسع قوم فنقلوه إلى يوم من السنة وفيه ما فيه – فهذا ما يتعلق بأصل عمله، وأما ما يعمل فيه فينبغي أن يقتصر فيه على ما يفهم الشكر لله تعالى من نحو ما تقدم ذكره من التلاوة والإطعام والصدقة وإنشاد شيء من المدائح النبوية والزهدية المحركة للقلوب إلى فعل الخير والعمل للآخرة وأما ما يتبع ذلك من السماع واللهو وغير ذلك فينبغي أن يقال ما كان من ذلك مباحا بحيث يقتضي السرور بذلك اليوم لا بأس بإلحاقه به وما كان حراما أو مكروها فيمنع وكذا ما كان خلاف الأولى
Syaikhul Islam Hafizh di masa ini, Abul Fadhl Ibnu Hajar ditanya mengenai amalan Maulid, beliau pun menjawab dengan redaksi sebagai berikut:
“Asal melakukan maulid adalah bid’ah, tidak diriwayatkan dari ulama salaf dalam tiga abad pertama, akan tetapi didalamnya terkandung kebaikan-kebaikan dan juga kesalahan-kesalahan. Barangsiapa melakukan kebaikan di dalamnya dan menjauhi kesalahan-kesalahan, maka ia telah melakukan bid’ah yang baik (bid’ah hasanah). kami telah melihat landasan yang kuat dalam hadist sahih Bukhari dan Muslim bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam datang ke Madinah, beliau menemukan orang Yahudi berpuasa pada hari ‘Asyura, maka beliau bertanya kepada mereka, dan mereka menjawab, “Itu hari dimana Allah menenggelamkan Firaun, menyelamatkan Musa, kami berpuasa untuk mensyukuri itu semua.”
Dari situ dapat diambil kesimpulan bahwa boleh melakukan syukur pada hari tertentu di situ terjadi nikmat yang besar atau terjadi penyelamatan dari mara bahaya, dan dilakukan itu tiap bertepatan pada hari itu. Syukur bisa dilakukan dengan berbagai macam ibadah, seperti sujud, puasa, sedekah, membaca al-Qur’an dll. Apa nikmat paling besar selain kehadiran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di muka bumi ini.
Maka sebaiknya merayakan maulid dengan melakukan syukur berupa membaca Qur’an, memberi makan fakir miskin, menceritakan keutamaan dan kebaikan Rasulullah yang bisa menggerakkan hati untuk berbuat baik dan amal sholih. Adapun yang dilakukan dengan mendengarkan musik dan memainkan alat musik, maka hukumnya dikembalikan kepada hukum pekerjaan itu. Kalau perkara yang dilakukan ketika itu mubah maka hukum merayakannya mubah, kalau itu haram maka hukumnya haram dan kalau itu kurang baik maka begitu seterusnya”.

Renungan

Usia umat Nabi SAW sudah lebih kurang 15 abad. Di saat yang sama orang-orang diluar Islam, sudah mampu menciptakan begitu banyak teknologi yang berguna bagi orang banyak, juga buat umat Islam. Seperti HP, Internet, dan lainnya. Namun, umat Islam masih asik berdebat dengan masalah-masalah yang tidak perlu, asik tenggelam dalam kubangan lumpur debat kusir.

Hasilnya umat Islam selalu terbelakang, dan senang bernostalgia pada era keemasan silam yang usianya sudah berabad-abad lalu. Dan rajin mengkampanyekan bahwa semua teknologi barat masa sekarang asalnya dari Muslim…hehehe. Oh Iya??? Well, bro and sis…
Read More
Unknown

Liputan Radar Bogor pada Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Masjid Al-Amaliyah, Kompleks Taman Pageralaran Ciomas Bogor pada tanggal 24 Desember 2015


Liputan Radar Bogor pada Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Masjid Al-Amaliyah,Kompleks Taman Pageralaran Ciomas Bogor pada tanggal 24 Desember 2015




Berikut link dari 
Makna kegiatan Maulid Nabi M
Read More
Unknown

Makna di balik Maulid Nabi Muhammad SAW

Makna di balik Maulid Nabi Muhammad SAW

Pelaksanaan Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 24 Desember 2015


Di Negara kita, perayaan maulid Nabi Muhammad SAW sudah menjadi rutinitas tahunan. Hampir seluruh lapisan masyarakat islam memperingatinya, mulai dari istana negara sampai sudut mushala. Sebagian muslimin bahkan memperingati maulid Nabi saw pada tiap malam senin ataupun jum’at. Maulid Nabi saw biasanya diperingati dengan berkumpulnya beberapa orang membaca al-Quran dan kisah teladan nabi saw sepanjang hidupnya. Sejarah Rabi’ul Awal sebelum kelahiran baginda Nabi saw, merupakan bulan yang tidak memilki keistimewaan bagi orang Arab. Menurut As-Sayid Muhammad Alawi al-Maliki, Allah swt menjadikan bulan Rabi’ul Awwal sebagai bulan kelahiran Nabi agar keistimewa-an dan keutamaan Nabi Muhammad muncul dari diri beliau. Jika Nabi saw dilahirkan pada salah satu bulan asyhur al–hurum, maka seakan-akan keutamaan Nabi saw bersumber dan mengikut pada keutamaan dan keisti-mewaan bulan-bulan tersebut. Setelah Nabi saw dilahirkan pada bulan Rabi’ul Awal, bulan yang asalnya tidak memilki keistimewaan ini menjadi istimewa dan mulia berkat kelahiran Nabi saw pada bulan itu. Hal ini juga terjadi pada hari kelahiran nabi, yaitu hari senin. Dahulu, orang arab hanya menge-tahui kemuliaan dan keutamaan bagi hari jum’at. Setelah nabi lahir pada hari senin, hari itu menjadi mulia dan istimewa berkat Nabi saw.  

Nilai dan Makna 


Memperingati maulid Nabi Muhammad SAW memiliki beberapa nilai dan makna, diantaranya:


  1.  Nilai spiritual. Setiap insan muslim akan mampu menumbuhkan dan menambah rasa cinta pada beliau saw dengan maulid. Luapan kegembiraan terhadap kelahiran Nabi Muhammad SAW merupakan bentuk cerminan rasa cinta dan penghormatan kita terhadap Nabi pembawa rahmat bagi seluruh alam sebagaimana surah Yunus; 58. Karena figur teladan ini diutus untuk membawa rahmat bagi seluruh alam (surah al-Anbiya’; 107). Dengan memperingati maulid, kita akan sendirinya ingat dengan perintah bershalawat kepada Nabi saw. Allah swt dan malaikat pun telah memberi contoh bagi kita dengan selalu bershalawat kepada beliau saw (surah  
  2. Nilai moral dapat dipetik dengan menyimak akhlak terpuji dan nasab mulia dalam kisah teladan Nabi Muhammad saw. Mempraktikan sifat-sifat terpuji yang bersumber dari Nabi saw adalah salah satu tujuan dari diutusnya Nabi saw. Dalam peringatan maulid Nabi saw, kita juga bisa mendapat nasehat dan pengarahan dari ulama agar kita selalu berada dalam tuntunan dan bimbingan agama. 
  3. Nilai sosial. Memuliakan dan mem-berikan jamuan makanan para tamu, terutama dari golongan fakir miskin yang menghadiri majlis maulid sebagai bentuk rasa syukur kepada Sang Maha Pencipta. Hal ini sangat dianjurkan oleh agama, karena memiliki nilai sosial yang tinggi (surah al-Insan
  4. Nilai persatuan akan terjalin dengan berkumpul bersama dalam rangka bermaulid dan bershalawat maupun berdzikir. Diceritakan bahwa Shalahuddin al-Ayubi mengumpulkan umat islam dikala itu untuk memperingati maulid Nabi Muhammad SAW. Hal itu dilakukan oleh panglima islam ini bertujuan untuk mempersolid kekuatan dan persatuan pasukan islam dalam menghadapi perang salib di zaman itu. Semoga dengan memperingati Maulid Baginda Nabi saw kita dapat memetik nilai-nilai positif. 

Fadilah Perayaan Maulid Nabi Menurut fatwa seorang Ulama besar : Asy-Syekh Al Hafidz As-Suyuthi menerangkan bahwa mengadakan peringatan kelahiran Nabi Muhammad Saw, dengan cara mengumpulkan banyak orang, dan dibacakan ayat-ayat al-Quran dan diterangkan (diuraikan) sejarah kehidupan dan perjuangan Nabi sejak kelahiran hingga wafatnya, dan diadakan pula sedekah berupa makanan dan hidangan lainnya adalah merupakan perbuatan Bid’ah Hasanah (bid’ah yang baik), dan akan mendapatkan pahala bagi orang yang mengadakannya dan yang menghadirinya, sebab terdapat rincian beberapa ibadah yang dituntut oleh syara’ serta sebagai wujud kegembiraan, kecintaan atau mahabbah kepada Rasullullah saw.

Team Panitia Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Masjid Al Amaliyah Taman Pagelaran Bogor


Read More

Senin, 08 Februari 2016

Unknown

Kunjungan Buya Yahya ke RW14 Komplek Taman Pagelaran

Berikut adalah dokumentasi saat kegiatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang di selenggarakan oleh Seluruh Warga RW14 Kelurahan Padasuka Taman Pagelaran Ciomas, dengan menghadirkan Buya Yahya dari Yayasan Al-Bahjah Cirebon

Buya Yahya akan memulai Tausiyah di Acara Mauldi di Taman Pagelaran
Suasana Meriah Acara Maulid di RW14 Taman Pagelaran
Usai Acara Maulid
Read More